Dhamma itu Indah pada awalnya, Indah pada Tengahnya, dan Indah pada Akhirnya...

Thursday, 4 June 2015

Waisak Bersama 2556BE/2015 di Candi Bahal

Waisak memperingati tiga peristiwa penting bagi umat Buddha, yaitu kelahiran, pencerahan, dan parinibbana sang Buddha. Waisak bersama tahun ini untuk pulau Sumatera berkumpul di Candi Bahal / Portibi yang ada di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara. Acara Waisak Bersama ini dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 31 Mei 2015. 











Friday, 6 March 2015

Vihara Sasana Surya - Desa Parit Bindu - Tanjung Langkat

Namobuddhaya,

Semoga kita senantiasa berbahagia di dalam Triratana, Buddha, Dhamma dan Sangha.
Ajaran Buddha Dharma semakin hari semakin berkembang di tanah air. Hal ini dapat kita ketahui dengan adanya berita-berita tentang pembangunan Cetiya ataupun Vihara di daerah pelosok tanah air yang beredar di media sosial maupun media cetak lainnya.

Melalui blogspot ini, informasi yang dapat kami sampaikan yaitu salah satu pembangunan vihara di daerah pelosok Provinsi Sumatera Utara tepatnya di Kota Tanjung Langkat, Desa Parit Bindu. Telah dilakukan prosesi Peletakan Batu Pertama oleh Bhikkhu Sangha yang terdiri dari Y.M. Bhikkhu Bhuripanno, Y.M Bhikkhu Kittipanno, dan Y.M Bhikkhu Atichagaro yang hadir pada saat peletakan batu pertama Vihara Sasana Surya pada hari Minggu Tanggal 15-02-2015. Yang juga dihadiri oleh Perwakilan MBI, Kepala Desa, Para Donatur, Umat Setempat dan Umat dari kota Medan.
Peletakan batu pertama ini berlangsung dengan singkat, diawali dengan pengalian lubang berbentuk persegi untuk peletakan batu pertama. Kemudian disiapkan juga batu-batu, semen, pasir yang nantinya digunakan untuk menutup lubang tempat batu pertama diletakkan yang menjadi tanda awal dari pembangunan Vihara Sasana Surya. 

Anggota sangha memulai acara ini dengan terlebih dahulu memberikan sedikit penjelasan tentang akan dibangunnya vihara di Desa Parit Bindu kepada para hadirin. Dan kemudian di lanjutkan dengan pembacaan parita. Setelah selesai pembacaan parita Y.M Bhikkhu Bhuripanno pun memulai peletakan batu pertama, dan kemudian dilanjutkan oleh Y.M Bhikkhu Kittipanno, dan Y.M Bhikkhu Atichagaro. Setelah itu dilanjutkan oleh para donatur, umat setempat, dan ditutup oleh perwakilan dari MBI yaitu Romo Afrita Sitepu dan Romo Pujiyatno Pujaya Dhamma
Setelah itu para anggota sangha melakukan pemberkahan atau pemercikan air parita kesekeliling tanah yang nantinya akan dijadikan vihara.
Acara peletakan pun selesai, dan dilanjutkan dengan pembahasan rencana dan realisasi pembangunan sambil menikmati hidangan khas penduduk setempat.

Semoga dengan pembangunan Vihara Sasana Surya ini dapat memberikan banyak manfaat dan kebahagiaan bagi umat Buddhis dan Masyarakat yang menetap di Desa Parit Bindu.

Sabbe satta bhavantu sukhitata _/\_
Semoga semua makhluk turut berbahagia _/\_
(Amd)


Monday, 9 February 2015

Dhamma Talk, Puja Asap (Yen Kung), dan Chau Thu bersama PASSANG RINPOCHE


Hadirilah acara Dhamma Talk, Puja Asap (Yen Kung) dan Ulambana (Chau Tu) Bersama PASSANG RINPOCHE yang akan diselenggarakan pada 
 tgl 28-29 Maret 2015
di Regale International Centre Jl. Adam Malik No. 66-68 Medan. 
TERBUKA UNTUK UMUM

DHAMMA TALK, PUJA ASAP
& CHAU TU

Bersama :
ORGYEN PASSANG RINPOCHE

28 & 29 MARET 2015
Pukul 19:00 wib - Selesai
Regale Internasional center
Jl.Adam Malik no. 66-68
Medan
(kapasitas 2000 - 3000 umat)

GRATIS (TERBUKA UNTUK UMUM) & TANPA TIKET

Disediakan:
snack
Pemberkatan &
Pembagian liontin oleh PASSANG RINPOCHE

“Mendengarkan Dharma di waktu yang tepat, itulah berkah utama”

* Satu kali kita mengikuti puja asap dapat menghalau 1080 rintangan kehidupan. (Rintangan Rejeki, kesehatan, keharmonisan dll)

»» wujudkan kasih sayang kepada leluhur dengan mengikuti puja ulambana (chau tu) agar mereka terlahir di alam berbahagia.

INFO ACARA:
* Lise
0811-610-911

* Mimi
0811-628-204

* Betty Ong
0812-605-7288

* DBEST Entertainment
081 2653 5935

* PENDAFTARAN ONLINE silakan kunjungi:
www.PUJAASAP.com

Profile Passang Rinpoche:
Beliau adalah seorang vegetarian dan lahir di tahun kambing bumi 1979 di Desa Gangtsar di area Dao daerah Kandze, Provinsi Sichuan, Pagi hari jam 9.

Sesaat setelah itu, Khandro Tare Lhamo, Makor Khandro dan Dzogchen Yogi Acho Rinpoche serta beberapa Guru Besar lainnya mengenali Beliau sebagai REINKARNASI dari Dzogchen Yogi Yeshe Tendzin Rinpoche

Pada umur 6 tahun, Rinpoche mengambil SILA dan Sumpah Upasaka.

Pada umur 8 tahun, Beliau masuk ke Institut Buddhist terbesar didunia Serthar Larung Five Discipline dan mengambil ordinasi kebikhuan dari Neten Gador Rinpoche dan memilih Raja Dhamma (Fa Wang) JIGME PHUNTSOK RINPOCHE sebagai Guru Utama.

Selama 16 tahun belajar di institut, Beliau mempelajari TRIPITAKA, VINAYA & ABHIDHAMMA.
Mendalami 5 Sutra (Madhyamaka, Prajna Paramita, Logic, Vinaya & Abhidhamma).

4 kelas dalam Tantra (Kriya Tantra, Charya Tantra, Yoga Tantra & Anuttara Yoga Tantra) dan intisari ajaran Dzongchen (Great Perfection)

Juga mempelajari lima bidang studi yaitu grammar, engineering, medicine, dan buddhism dibawah ajaran para khenpo dan para guru besar lainnya.

DAFTARKAN NAMA LELUHUR ANDA...di www.pujaasap.com





Dhamma Dana II oleh Y.M. Bhikkhu Sumedho Maha Thera

DHARMA TALK bersama AJAHN SUMEDHO


HADIRILAH ACARA SPECTACULAR DI TAHUN 2015
NAMO BUDDHAYA,

Sungguh suatu kesempatan yang sangat langka dan berbahagia, Buddhis kota Medan akan dikunjungi oleh seorang master spritual yang sangat senior dan tinggi spritualnya serta sangat terkenal di dunia. Beliau adalah ;AJAHN SUMEDHO atau biasa juga dipanggil LUANGPHOR SUMEDHO ;murid paling Senior berkebangsaan Barat dari AJAHN CHAH, Bhikkhu hutan di Thailand, Beliau sudah 49 tahun mengabdi kepada Buddha Dharma. Sebagian besar waktu hidup Beliau dicurahkan dalam pengembangan BUDDHA DHARMA terutama di EROPA. Beliau adalah kepala Vihara AMARAWATI di INGGRIS serta vihara -vihara lainnya diberbagai belahan dunia dan sekarang menetap di WAT PAH RATANAWAN THAILAND

Beliau akan membabarkan DHARMA kepada umat Buddha Medan-Sumatera Utara pada:
Acara. : Dhamma Dana
Judul. : MINDFULNESS - A Path to the Deathless.

Beliau juga akan bercerita apa yang membuat beliau seorang warga Amerika bisa menjadi seorang Buddhis dan bahkan menjadi seorang murid Sang Buddha.
Hari. : Rabu,11Maret 2015
Waktu. :18.30 - 21.00 Wib
Tempat. : Selecta Royal Ballroom Lantai 5, Medan.

Bagi umat yang ingin berpartisipasi atau berdana/sponsor untuk acara ini dapat menghubungi panitia di:
1. Hendra Kwang 0812 6830 0188
2. Jati 0811 65 8585.
3. Manny 0812 602 7202
4. Paumin 0823 6077 6688
5. Sulaiman 0853 7226 7266
6. Suriono Yamin 0811 6079 277.
7. Rubby 0812 6095 558 Atau pin BBM7D943A85
Dont miss it or never again.

Mettacitena YAY DHARMAYUDHA KUSUMA INDONESIA
Buku karangan Ajah Sumedho yang telah mendunia al :
1. A Path to the Deathless
2. The sound of silence
3. Teachings of Buddhist Monk.
4. The mind and the way Buddhist reflections of life, dan banyak buku lagi yang dikarang oleh Ajahn Sumedho

Link on DKI Facebook

Sunday, 27 October 2013

MOTIVATION DHAMMATALK FOR CHARITY (MDFC)


MOTIVATION DHAMMATALK FOR CHARITY (MDFC)
"SUCCESSFUL & HAPPY LIFE in BUDDHISM"
Bersama ::
• Y.M BHANTE KHEMANANDO THERA
(The Abbot of ITBC)
• ANDRIE WONGSO
(Motivator No.1 Indonesia)
MINGGU, 22 DES 2013
18.00 Wib - Selesai
BALLROOM SELECTA Lt.5
Jl. Listrik No.2 MEDAN
----------------------------------------
Wooooow....ini merupakan event Ƴα̍Ϟƍ Luar Biasa diakhir tahun 2013. Event Motivation Dhammatalk for Charity (MDFC) bersama Narasumber Ƴα̍Ϟƍ sangat fenomenal, di selenggarakan oleh Indonesia Theravada Buddhist Centre (ITBC) Cemara Asri - Medan.
So...jangan sampai dilewatkan event luar biasa ini, buruan segera dapatkan undangannya, Tempat terbatas...siapa cepat dia dapat...
• VVIP : Rp. 250.000,- (Dana)✔
• VIP : Rp. 150.000,- (Dana)✔
• GEN : Rp. 30.000,- (Dana)✔
(Sudah Dapat snack + minuman)
Bagi Ƴα̍Ϟƍ beruntung akan mendapatkan 3 Rupang Buddha Ƴα̍Ϟƍ spesial, Ƴα̍Ϟƍ bisa dijadikan Pattipati Puja di Altar rumah keluarga anda.
‪#‎TIKET‬ UNDANGAN dapat dipesan & diperoleh melalui :»
✆ Aluan 061-77417472
(Sekretariat ITBC - Cemara Asri)
✆ Meira Angelina 085260575757
(Golden Boutique - Jl. Thamrin No.75)
✆ Aling 08126099728
(Royal Wedding Jl. Negara No.49)
✆ Christien Wijaya 081286126080
(STBA PIA-Jl.K.L Yos Sudarso Glugur)
✆ Christine Cen 085275923848
✆ Juni Huang 08998800245
‪#‎SPONSORSHIP‬ :
✆ Amin Kesuma 08996265172
✆ Rusnani 087868150506
✆ Darwin 081263238892
Event Motivation Dhammatalk for Charity (MDCF) terselenggara menggantikan Dhammatalk Coffee Dhamma Ƴα̍Ϟƍ sebelumnya telah diselenggarakan beberapa kali oleh ITBC.
KEDATANGAN ANDA ADALAH KEHORMATAN BAGI KAMI,
DUKUNGAN ANDA ADALAH KEBAHAGAIAN BAGI KAMI,
ANDA DATANG KAMI SENANG,
ANDA PULANG KAMI KENANG.
NB :
Mohon tidak merubah BC ini, info baik hendaknya diteruskan agar orang" Ƴα̍Ϟƍ membacanya mengetahui dengan jelas berita baik tersebut.
Añù♏ϑǟñά
Н̲̣̣̣̥ɑ̤̥̈̊ppϔ ♏mέñ† Н̲̣̣̣̥ɑ̤̥̈̊ppϔ ¡й D̶̲̥̅̊ϑhɑ̤̥̈̊mmɑ̤̥̈̊

Wednesday, 23 October 2013

KATHINA DANA DI INDONESIA THERAVADA BUDDHIST CENTRE (ITBC) CEMARA ASRI - MEDAN

PARA BHIKKHU SANGHA YANG AKAN HADIR DALAM ACARA KATHINA DANA DI INDONESIA THERAVADA BUDDHIST CENTRE (ITBC) CEMARA ASRI - MEDAN.

Tiga bulan Bhikkhu Sangha telah menjalankan masa Vassa, kini tiba saatnya umat Buddha berkesempatan memberikan persembahan, sebagai bentuk wujud bakti & dukungan kepada Sangha atas semua jasa baik yang sudah diberikan kepada umat dalam memberikan bimbingan terhadap Buddha Dhamma. Indonesia Theravada Buddhist Centre (ITBC), akan menyelenggarakan perayaan "'Kathina Dana" pada :

☑ SABTU, 26 OKTOBER 2013
☑ Pkl. 18.00 Wib - Selesai
☑ Tempat. Eka & Dwe Dhammasala ITBC
Komplek Perumahan Cemara Asri Jl. Boulevard Utara No. 1 Cemara Asri.

Dengan tidak mengurangi nilai luhur dalam berdana, Panitia memberi kemudahan Umat dalam berdana sbg penyesuaian/pengganti 4 kebutuhan pokok (Parikkhara) dg ketentuan sbg berikut :

☑ Paket A : Persembahan Jubah
☑ Paket B : Persembahan Obat
☑ Paket C : Persembahan Makanan
☑ Paket D : Persembahan Sukarela
☑ Paket E : Persembahan All in One

Hedaknya seseorang melakukan kebajikan dilakukan dg penuh keyakinan, dan dg penuh ketulusan & keiklasan. Apabila seseorang berbuat bajik, Hendaknya ia mengulangi perbuatan itu, dan bersukacitta dg perbuatan itu, Sungguh membahagiakan akibat dari perbuatan kebajikan. [Papa Vagga IX:118]

Informasi & Pemesanan Paket Persembahan :
☑ Meng Mi (08126072762
☑ Rusnani (087868150506)
☑ Christine (085275923848)
☑ Sekretariat - Aluan (061-77417472)

BB™ 24E9C71F
Mettacittena
Panitia Kathina Dana ITBC 2013



 

Vassa, Pavarana dan Kathina

 Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhasa  
Vassa, Pavarana dan Kathina
Penyaji: Bhikkhu Khemanando

Pendahuluan
Sudah merupakan suatu kewajiban bagi umat buddha untuk selalu melestarikan Ajaran Buddha, seperti halnya memperingati hari-hari penting didalam Buddhasasana. Asalha Puja selalu diperingati oleh umat Buddha setiap tahun, mengenang suatu peristiwa yang sangat langka didunia ini. Saat itulah Buddha membabarkan khotbah pertamanya yang disebut dengan Dhammacakkapavatthana Sutta, yang dibabarkan dikusinara kepada Panca Vaggiya Bhikkhu atau Lima orang pertama. Saat itulah terbentuknya sangha didalam buddha sasana.

Vassa (berdiam dimusim hujan)

Sehari setelah diperingatinya asalha puja sebagai hari Dhamma dan terbentuknya sangha, para bhikkhu sangha memasuki masa vassa atau musim hujan/ rain retreat. Masa vassa disini merujuk pada musim dimana musim tersebut para bhikkhu sangha tidak diperkenankan keluar vihara seperti hari-hari biasa. Para bhikkhu, yang tinggal disuatu tempat dimana mereka bertekad untuk bervassa selama tiga bulan, harus menentukan tempat itu sebagai tempat tinggal selama vassa dengan mengucapkan kalimat dalam bahasa pali sebagai berikut: “Imasmim Avase Imam Temasam Vassam Upema” artinya kami akan berdiam didalam vihara ini selama tiga bulan dari musim hujan. Jika seorang bhikkhu tinggal sendiri disuatu tempat ia harus mengucapkan kalimat dalam bahasa pali sebagai berikut: “Imasmim Vihare Imam Temasam Vassam Upemi” yang artinya saya bertempat tinggal ditempat ini selama tiga bulan dari musim hujan. Para bhikkhu tidak dianjurkan untuk mengembara selama musim ini. Apabila ada seorang bhikkhu yang mempunyai suatu urusan yang harus ia lakukan maka ia dapat meninggalkan tempat tinggalnya tidak lebih dari tujuh hari dan bertekad kembali pada hari tersebut. Hal ini disebut dengan Sattahakaraniya (urusan selama tujuh harus diselesaikan). Menurut aturan didalam Mahavagga dan Cullavagga-Vinaya Pitaka-Tipitaka ada beberapa poin diantaranya:
1. Ingin mengunjungi orang tua yang sakit.
2. Memberi nasehat kepada seorang bhikkhu yang ingin lepas jubah (disrobe)
3. Ingin mencari bahan-bahan untuk pembangunan sebuah vihara
4. Memberi sebuah kontribusi kepada umat supaya mereka bisa berbuat kebajikan
Ini merupakan aturan yang harus diambil oleh seorang bhikkhu jika mereka ingin meninggalkan tempat selama masa vassa. Jika para bhikkhu meninggalkan tempat tanpa melakukan tekad untuk kembali atau tidak kembali selama tujuh hari maka Vassanya putus. Maka bhikkhu yang melanggar tradisi ini telah melakukan pelanggaran Dukkata.
Kronologi munculnya Vassa (berdiam pada musim hujan)

Ada tradisi bahwa para bhikkhu disalah satu musim tidak dianjurkan untuk mengembara atau berdutthanga, dan diharuskan untuk tinggal disuatu tempat selama tiga bulan. Vassa yaitu berdiam selama musim hujan. Waktu ini dihitung dari perhitungan bulan dan matahari yang biasanya jatuh pada hari setelah bulan purnama dibulan ketujuh.

Pada saat vassa belum ditentukan oleh Buddha sehingga para bhikkhu pada waktu itu selalu mengadakan perjalanan jauh selama musim dingin, hujan dan panas. Mereka keluar masuk sawah, kebun dan ladang milik petani sehingga mengakibatkan tumbuh-tumbuhan yang ditanam oleh petani menjadi rusak dan banyak binatang yang mati. Sehingga masyarakat mencela para bhikkhu dan membandingkan dengan pertapa-pertapa lain karena pertapa-pertapa yang lain bisa menetap disuatu tempat ketika musim hujan tiba. Mendengar celaan dan kritikan dari masyarakat beberapa bhikkhu menghadap Buddha dan melaporkan kejadian ini. Pada akhirnya Buddha bersabda: “Para bhikkhu, saya izinkan kalian untuk melaksanakan masa vassa.” Lalu para bhikkhu bertanya lagi: “Kapan masa vassa bisa dimulai?” lalu Buddha menjawab: “Saya izinkan kalian untuk berdiam selama musim hujan.” Para bhikkhu bertanya lagi kepada Buddha: “Lalu berapa banyak periode kami harus mulai berdiam?” Buddha berkata: “Oh para bhikkhu ada dua periode dalam menjalankan masa vassa. Periode pertama dilakukan setelah bulan purnama pertama dibulan juli/asalha, jenis vassa ini disebut Purimikavassupannayika. Dan vassa jenis kedua dilakukan satu hari setelah bulan purnama kedua atau satu bulan setelah bulan asalha, jenis vassa ini disebut Pacchimikkavassupanayika.

Didalam Vinaya Pitaka-Mahavagga, Vassupanayika Khandaka, Buddha bersabda : “Anujanami Bhikkhave Vassam Upagantum Dve Bhikkhave Vassupanayika Purinimika Pacchimika Aparajju-gataya Asalhiya Purimika Upagatantabha” yang artinya dimusim hujan, para bhikkhu harus bertempat tinggal disuatu tempat. Selama musim ini para bhikkhu harus mengawali dan mengakhirinya dengan sebuah upacara. Masa vassa, menurut aliran Theravada, menentukan para bhikkhu melakukan penyunyian disebuah vihara sesuai dengan aturan Vinaya. Masa ini dilakukan para bhikkhu selama 3 bulan penuh.
Pavarana (mengundang untuk memberikan nasehat)

Akhir dari vassa disebut pavarana. Pavarana adalah hari uposatha yang sangat spesial bagi para bhikkhu, yang mana dihari tersebut para bhikkhu mempunyai hak istimewa tidak mendengarkan pembacaan patimokkha sila sebagaimana dibaca setiap uposatha gelap dan terang. Pavarana ini, para bhikkhu mengundang yang lainnya untuk memberikan nasehat kepadanya atas perbuatan-perbuatannya yang keliru. Jumlah bhikkhu yang dibutuhkan adalah lima bhikkhu atau lebih dinamakan Sangha Pavarana. Jika pavarana hanya dilaksanakan oleh seorang bhikkhu dinamakan Puggala Pavarana dan jika pavarana dilakukan lebih dari seorang bhikkhu dan kurang dari lima bhikkhu dinamakan Ghana Pavarana. Untuk melakukan upacara ini sangha biasanya berkumpul diruang uposathagara, yang biasanya digunakan untuk pembacaan patimokkhasila. Satu persatu dari bhikkhu tersebut mengucapkan Pavarana dalam bahasa pali dimulai dari yang senior sampai kebhikkhu yang paling yunior. Setelah pavarana usai, maka tibalah hari kathina yang berlangsung selama satu bulan antara bulan Assayuja-Kattika (Oktober-November). Pada waktu dulu para bhikkhu memakai kain Jubah (civara) dari kain-kain pembungkus mayat. Pada zaman sekarang ini para bhikkhu bisa menerima kain atau jubah secara langsung dari umat Buddha. Sekaligus mereka juga bisa mempersembahkan empat kebutuhan pokok para bhikkhu atau parikkhara yaitu:
1. Civara (jubah)
2. Pindapata (makanan)
3. Senasana (tempat tinggal) dan
4. Bhesajja (obat-obatan).


Setelah masa pavarana usai maka para bhikkhu bisa melakukan pengembaraan kembali seperti biasa. Para bhikkhu mendapatkan hak istimewa selama empat bulan setelah pavarana, yaitu: 1. Berpergian tanpa membawa jubah lengkap. 2. Berpergian tanpa harus minta izin kepada kepala vihara atau bhikkhu lain. 3. Diperbolehkan pergi selama 4 bulan penuh. 4. Diperbolehkan makan berkelompok dalam vihara. 5. Barang yang didapat pada saat menerima kathina dana bisa dibagi kepada para bhikkhu yang tinggal.
Kathina Dana (persembahan Jubah)

Hari kathina adalah hari bhatti umat buddha sebagai rasa syukur dan terima kasih kepada para bhikkhu yang telah melaksanakan masa vassa. Disamping itu, ucapan terima kasih atas nasehat, dorongan dan bimbingan untuk mengembangkan moralitas/etika. Hari kathina juga merupakan suatu momen yang baik untuk umat buddha atau siapa saja dianjurkan untuk melakukan perbuatan (dana) kepada sangha. Waktu ini digunakan oleh para bhikkhu untuk mengganti jubah baru untuk menggantikan jubah lama. Buddha memberikan izin istimewa kepada para bhikkhu untuk menerima dana kain jubah dari umat untuk menggantikan jubah lamanya. Buddha memberikan kesempatan ini kepada seluruh umat manusia yang sadar akan perbuatan yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan, keluhuran, serta kesucian buddha masih tetap dilestarikan oleh umat manusia didunia ini. Upacara kathina ini sangat penting demi menunjukkan kemanunggalan antara sangha dan umat. Mereka harus saling asuh, asih dan asah demi solidaritas dan kelanggengan Buddha sasana didunia ini. Disamping itu upacara kathina mendorong para bhikkhu supaya menjadi bhikkhu yang baik dan taat pada vinaya (peraturan) serta mendorong umat menjadi umat yang baik dan patuh pada sila. Ini merupakan berkah termulia bagi kita bahwasannya kita saat ini masih bisa melakukan perbuatan bajik ini. Dan kebaikan-kebaikan inilah yang menjadi modal utama kita untuk menentukan cita-cita luhur kita nantinya.

Ada beberapa pengertian tentang yang disebut Kathina Dana dengan sempurna:
1. Divihara itu minimal ada 5 orang bhikkhu yang bervassa.
2. Kelima bhikkhu itu harus memasuki vassa yang sama.
3. Harus menyelesaikan masa vassa pada waktu yang sama dan sempurna.
4. Kathina Dana harus diselenggarakan diuposathagara.
5. Pada upacara itu kelima bhikkhu yang bervassa divihara tersebut menerima persembahan kathina Dusam (kain untuk dibuat jubah kathina) yang dipersembahkan oleh umat.
6. Kelima bhikkhu itu kemudian serentak membuat sanghakamma(upacara), memutuskan siapakah yang berhak menerima jubah kathina.

Tetapi dalam hal berdana ini yang terpenting adalah barang atau sesuatu yang akan didanakan bukan barang dari hasil perbuatan yang tidak baik, misalnya; mencuri, merampok ataupun perbuatan tidak baik lainnya. Dalam berdana ada tiga faktor yang perlu dipahami oleh seorang pendana, yaitu;
1. Pubbacetana : berbahagia sebelum memberi.
2. Muncacetana : berbahagia saat memberi.
3. Aparaparacetana : berbahagia setelah memberi.

Kesimpulan
Vassa, pavarana dan kathina adalah satu ikatan yang tak terpisahkan dalam buddhasasana. Momen inilah yang bisa mengundang umat buddha bisa melakukan suatu tindakan yang baik dan bisa menciptakan kebahagiaan didalam kehidupannya. Dengan memahami dan mengerti arti ketiga point tersebut, umat buddha akan selalu menunjukkan rasa bhattinya kepada sangha dan selalu mendukung kegiatan-kegiatan mereka demi berkembangnya Buddha sasana didunia ini. Buddha bersabda bahwa “berdana pada sangha mempunyai nilai Dhamma yang jauh lebih tinggi dibanding dengan berdana pada seorang Bhikkhu (punggala bhikkhu) atau pribadi Buddha sendiri.”


Pacaran menurut Perspektif Buddhis

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhasa  
Pacaran menurut Perspektif Buddhis  
Oleh: Y.M. Bhikkhu Khemanando Thera

Pendahuluan

Menyikapi fenomena pacaran di jaman sekarang ini memang bisa membuat kita terpana, gimana tidak, dari kemajuan dan terus menerusnya perkembangan dunia yang makin maju ini tidak terasa meracuni hati dan perilaku manusia yang seharusnya bisa dihindari atau minimal bisa mengurangi kadar racun yang tercampur dalam darah keimanan kita. Khususnya dalam hal ini pacaran, meragukan banget kalau para remaja-remaja muda ini menilai atau mendefinisikan pacaran sebagai tali silahturahmi keluarga untuk mengenal dan saling memahami satu sama lain untuk kelancaran hubungan yang berakhir dengan pernikahan, tapi banyak survey membuktikan bahwa hubungan diera modern ini hanya memprioritaskan nafsu bukan mengutamakan the best relationship.
Dari sudut pandang buddhis sendiri jika kita menginginkan sahabat yang baik dan bisa mendukung kita dalam mengatasi krisis relationship maka kita harus memilih pasangan itu dengan hati yang benar-benar tulus. Menurut referensi dari Sigalovada Sutta dijelaskan ada empat jenis sahabat yang perlu diahami dengan jelas, antara lain:

  •     Penolong
  •     Sahabat diwaktu senang dan susah
  •     Sahabat yang memberi nasihat baik
  •     Sahabat yang simpati

Atas empat dasar sahabat yang menolong harus dipandang sebagai sahabat yang berhati tulus, yaitu:

  •     Ia menjaga dirimu sewaktu kamu udah tidak siap
  •     Ia menjaga milikmu ketika engkau lengah
  •     Ia menjadi pelindungmu ketika engkau sedang ketakutan.
  •     Jika engkau melakukan tugas, ia memberikan bekal dua kali lipat dari yang kamu perlukan.

Atas empat dasar sahabat diwaktu senang dan susah yang harus dipandang sebagai sahabat yang berhati tulus, yaitu:
  •     Ia menceritakan rahasia-rahasia kepadamu
  •     Ia tidak menceritakan rahasia itu kepada orang lain
  •     Didalam kesusahan ia tidak akan meninggalkanmu
  •     Untuk membela dirimu, ia bersedia mengorbankan nyawanya.

Atas empat dasar sahabat yang menasihatkan apa yang engkau lakukan sebagai yang brehati tulus, yaitu:
  •     Ia mencegah engkau berbuat salah
  •     Ia menganjurkan engkau untuk berbuat yang benar
  •     Ia memberitahukan apa yang belum pernah engkau dengar
  •     Ia tunjukkan padamu jalan ke surga.

Atas empat dasar sahabat yang bersimpati harus dipandang berhati tulus, yaitu:

1.       Ia tidak merasa senang atas kesusahanmu

2.       Ia merasa senang akan kesuksesanmu

3.       Ia cegah orang lain bicara jelek tentang dirimu

4.       Ia sanjung setiap orang yang memuji dirimu.

Sebenarnya boleh gak sich pacaran itu?



Kalau dilihat dari perkembangan budaya dan keanekaragaman pergaulan kayaknya nggak mungkin kalau pacaran itu dibumi hanguskan, jadi menurut pandangan saya boleh2 saja tapi bagaimana kita menyikapi hal tersebut hingga tidak terjebak dalam kemaksiatan. Nah beberapa pengetahuan dari saya ada beberapa hal disini akan membantu pencerahan, bagaimana pacaran yang nyaman, dan sehat itu?, ada beberapa tips yang akan kita bahas…., OK mari kita bahas.

Sebelumnya saya pernah membaca di salah satu buku dan membuat saya penasaran untuk saya baca dan setelah saya pahami ternyata memang nyaman buat menjalin hubungan dan tidak hanya untuk pacaran saja melainkan juga untuk relationship yang lain,  teknik ini disebut SMART, nah apa itu SMART…?
Spesifik yang artinya khusus, tertentu atau hanya itu saja. Disini kita mencoba bermain pikiran dan niat sebelum terjadinya hubungan itu, anda pacaran niatnya apa sich? Keperluannya apa sich? Atau pengennya menghasilkan apa dari yang pacaran itu, pasti beda donk definisi atau niat pacaran antar manusia satu dengan yang lain....., nah langkah awal ini harus jelas dan ga boleh menyimpang, bahaya! Misalnya mungkin pacaran itu hanya mencari sebuah status gender atau pengen dilihat bawa gandengan. Seperti yang saya bilang di atas, saya ragu kalau niat pacaran sekarang itu untuk want to know for married,…Intinya kalau sekedar iseng atau coba-coba mending tidak melakukan… kasihan, mereka juga punya perasaan…. Nah setelah niat awal udah jelas baru deh melangkah ke jalan berikutnya…

Measureable atau terukur. Nah hal ini perlu diperhatikan setelah menjalani proses PDKT alias pendekatan awal lanjutan setelah jalan atau jadian…, terukur disini maksudnya apakah semua yang anda rencanakan udah terukur sampai batas mana anda mengenal dan memahami pasangan anda, pasti ada tingkatannya, masa setahun jalan belum tau apa-apa tentang pasangan anda kan ngak mungkin, seperti halnya kebaktian ke viahara kian hari harusnya kian khusyuk jangan malah ditinggalin…, Intinya hubungan anda ini kayaknya bisa dilanjutkan atau tidak? Atau malah bikin runyam kegiatan anda?

Selanjutnya Achievable atau jelasnya dapat tercapai hal ini tidak jauh dari tahap terukur di atas cuman kalau pacaran tadi tidak menghasilkan hal-hal positif dan memacu anda untuk berbuat baik dan jauh dari maksiat kenapa pacaran itu dilakukan? Betul ga?

Reasonable alias layak, pantas dan masuk akal. Apa sich yang membuat pacaran itu pantas, layak dan masuk akal? Tentu ada alasannya, misalnya gini jika anda benar-benar pacaran itu untuk nikah tunjukin donk pada orang-orang kalau anda itu pacaran jelas dan tidak neko-neko atau sekedar menjalankan proyek buaya (playboy/playgirl) nah ini harus jelas apalagi kejelasan keluarga atau modal juga harus dipikirin, selain itu juga harus memperhatikan manajemen pacaran yang benar-benar bisa memberikan kontribusi yang baik bagi kita dan pasangan kita…

Finally, Time, bahasa Indonesianya waktu, jelas tau semua donk, target pencapaian, klimaks…, kapan memulai, kapan klimaks dan kapan mengakhirinya. Ini semua harus jelas, jadi kalau anda sekalian hanya diberi iming-iming jangan mau,mending minta kejelasan dari pada berabe, bubar semua malah kacau. Seperti halnya pekerjaan redaksi semua ada tahapannya dari mulai rapat redaksi, bagi tugas liputan, penulisan, editing, layout hingga jadwal cetak dan sampai ke tangan pembaca semua harus rapi semua itu harus jelas urutannya. Intinya jikalau mertua sudah bilang, “Kapan mau nikahin anak saya?”,jangan sampai anda menjawabnya, “ Masih lama pak, belum mapan segala sesuatunya, yach main-main dulu aja lah pak, santai”, waduh bisa-bisa rumah kamu dibakar tuh ama mertua, gila udah berlama-lama pacaran ternyata masih ga jelas juga, belum siap kok nekat??

KESIMPULAN

Untuk menjalin sebuah hubungan yang baik atau dalam bahasa kerennya disebut pacaran ini kita memang betul-betul dituntut untuk bisa menentukan seorang sahabat yang bisa memahami kita including orang tua kita. Sahabat tersebut harus bisa menjadi penolong, sahabat pada waktu senang dan susah, sahabat yang memberikan apa yang engkau butuhkan dan ia menggetar simpati untuk dirimu. Empat jenis sahabat ini ia harus menyediakan dirinya bagaikan seorang ibu terhadap anak kandungnya sendiri.

Nah…, gitu dech sekilas dari apa yang bisa saya sampaikan dan semoga tips di atas bisa anda diterapkan dalam menjalin sebuah hubungan yang baik. Ehmm, ingat ini semua masih dalam porsi latihan manajemen berpacaran, meski melati kita untuk menghindari dari hal-hal yang tidak bak namun jika dalam hubungan tersebut melanggar batasan-batasan yang ditetapkan agama maka tetap saja diberi label Akusala Kayakamma alias kamma buruk yang melalui perbuatan”.


 Diambil dari buku Problem dan cara untuk Mengatasinya (2009)


Wednesday, 28 November 2012

Vihara Buddha Narada - Tanjung Morawa

Sejarah Awal Berdirinya Vihara Buddha Narada Tanjung Morawa
(Jl. Karya Dharma Gg. Gambas No.1, Tanjung Morawa)

 Perkembangan ajaran Buddha di Tanjung morawa berawal dari 3 orang guru yang bernama Alm.Romo Chayono Bakti {Cu Sien}, Ibu Rini, dan Pandita R. Sondran. Sejarah berawal dari sekitar ahun 1985 saat nara sumber kami masih duduk di bangku kelas IV SD, ketiga guru ini setiap Minggu tekun dan rutin datang ke desa kami untuk mengajarkan Dhamma. Mengajarkan cara membaca paritta kepada anak-anak sekali minggu. Tempat belajar Dhamma saat itu bukanlah di Cetya atau di Vihara, tetapi di sebuah Kelenteng {BUDI MURNI , GO YA KONG BIO} milik Bapak Akhiok yang merelakan ruangan untuk ritual sembahyang dewa dijadikan baktisala (tempat melaksanakan kebaktian kepada Buddha)
Ketiga guru dan pemilik kelenteng tersebut bukan saja telah berdana tenaga dan tempat, tetapi mereka juga berdana makanan setiap Minggu-nya kepada para umat dan anak-anak yang setia mengikuti kebaktian di kelenteng ini. Kalo tidak salah kegiatan Sekolah Minggu tersebut berjalan dengan lancar selama 3 tahun lamanya. Pada waktu itu sekitar 20-an anak yang di visudhi di Vihara Borobudur oleh Su Kong {Yang Mulia Bhante Ashin Jinarakhita} dan Eyang {Yang Mulia Bhante Jinadhammo Maha Thera} dan kami pun sempat merayakan Hari Suci Waisak 2 kali dan setelah itu kegiatan Sekolah Minggu pun berakhir sampai saat itu, karena Kelenteng milik pak Akhiok telah di jual kepada pihak lain. dan kita tidak memilki tempat lagi untuk melakukan kebaktian.
 
Beberapa tahun kemudian Romo Mulajaya {papa nara sumber kami} membuat sebuah Cetya kecil di rumah milik sendiri. Hampir setiap minggu ada sekitar 5 orang umat dan anggota keluarga yang turut hadir melakukan kebaktian. Setiap tahun kami merayakan perayaan hari Waisak di rumah dengan sangat sederhana. Dengan mengundang beberapa anggota alumni Sekolah Minggu dan orang tua mereka melakukan Puja Bakti dan makan bersama. Makanan ini lah yang kemudian menjadi ciri khas perayaan Waisak pada saat itu dan sampai saat ini yaitu Lontong Waisak.  Pada saat itu belum tau tradisi apa yang akan diikuti di Cetya kecil ini berhubung karena 3 orang guru mengajarkan ke-3 tradisimua, jadi kebaktian yang dilakukan saat itu berjalan sesuai aja apa yang  diajarkan oleh pemimpin upacara kebaktian. Yang jelas umat saat itu mengetahui bahwa sebagai umat Buddha maka Buddha Sakyamuni yang menjadi Guru Agung.
Pada saat perayaan Waisak di tahun 2550 BE atau tahun 2006 yang silam, Pemilik Cetiya saat itu berencana mengundang Bhikkhu untuk turut hadir dalam perayaan hari Waisak, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengundang para Bhikkhu. Singkat cerita akhirnya keputusannya adalah pergi ke Vihara Borobudur untuk mengundang salah satu Bhikhu yang menetap di sana. Pada saat itu ternyata ada Bhikkhu yang menyatakan bersedia hadir yaitu Bhikkhu Pannasami dan Bhikkhu Aggacitto. Perayaan Waisak pun berhasil diselenggarakan pada saat itu dengan cukup meriah dan dihadiri banyak umat Buddha khususnya yang berdomisili di Desa Tanjung Morawa. Hal ini mungkin disebabkan karena para umat ingin melihat seorang Bhikkhu itu seperti apa, karena sebelumnya belum pernah ada Bhikkhu yang datang berkunjung. Ternyata dimulai dari saat itu lah agama Buddha mulai berkembang di Desa Tanjung Morawa hal ini tampak jelas karena sebelumnya hanya berjumlah tidak lebih dari dua kepala keluarga saja yang memahami ajaran Buddha yang sesungguhnya. Pada saat itu kebanyakan adalah umat tradisi dan umat yang hanya tertera agama Buddha KTP. Melihat umat di Desa Tanjung morawa begitu antusias dan saat itu Cetya sudah tidak mampu menampung sejumlah umat yang hadir saat itu, maka Yang Mulia Bhante Pannasami memberikan ide untuk mendirikan sebuah vihara sederhana. Rencana ini harus disetujui terlebih dahulu oleh Eyang {Yang Mulia Bhante Jinnadhammo Maha Thera}. Singkat cerita pertemuan dengan Eyang berlangsung dengan mulus dan Eyang sangat mendukung hal ini, dengan memberikan sebuah nama Vihara yang akan dibangun di desa Tanjung Morawa ini dengan nama "VIHARA BUDDHA NARADA”

Sejak itulah timbul semangat yang luar biasa karena telah mendapat dukungan dari anggota Sangha terutama Eyang dan kemudian Yang Mulia Bhante Pannasami ditunjuk langsung oleh Eyang sebagai PEMBINA umat Buddha di Desa Tanjung Morawa.  Akhirnya babak awal pembangunan vihara dimulai dengan membentuk sebuah yayasan bernama Persamuan umat Buddha dan Muda-mudi Vihara Buddha Narada. Program kegiatan Pengumpulan Dana pun langsung direalisasikan pada saat perayaan Hari ASADHA PUJA dengan menyelenggarakan sebuah acara bazar amal.  Para pengurus pada saat itu yang sangat minim pengalaman dengan dukungan dari Muda-Mudi dan para umat sukarelawan berasal dari vihara lain. Acara Bazar Amal pun sukses terlaksanadan tidak disangka ternyata kegiatan Bazar Amal pada saat itu menjadi kegiatan Bazar Amal yang terbesar dan termeriah di Sumatera. Dalam waktu hanya 1 malam terkumpul dana sebesar Rp 60.000.000 lebih dimana dana ini sudah dipotong semua biaya kegiatan.
Beberapa minggu setelah kegiatan bazar amal berlalu, panitia pun bergegas mencari sebidang tanah pertapakan untuk membangun Vihara. Rencana awalnya membeli ukuran tanah seluas ±10x20 meter saja tetapi tidak berhasil menemukannya. Jadi untuk sementara waktu masih menyewa sebuah rumah umat yang sederhana utk di jadikan vihara sementara agar umat bisa melakukan kegiatan puja bakti dan kegiatan sosial. 3 bulan lebih telah berlalu dalam pencarian juga belum membuahkan hasil. Pada akhirnya seorang pengusaha menawarkan tanah miliknya dimana tanah tersebut memang sangat cocok untuk dibangun sebuah vihara karena berdasarkan letaknya yang di atas bukit (tempat yang agak tinggi sedikit dari jalan biasa) dan tidak terlalu luas {± 5000 meter} dengan syarat tidak boleh dibeli sebagian saja, harus semuanya sekaligus. Untunglah untuk pembayarannya dapat dicicil sebanyak 5 kali.  Harga tanah saat itu sekitar Rp 600.000.000,- (enam ratus juta rupiah) sementara dana yang dimiliki hanya sekitar seratus juta yang terkumpul dari hasil keigatan bazar dan dana sukarela dari umat. Dengan tekad yang timbul sepontan saat itu untuk mendapatkan tanah ini, maka terjadilah usaha untuk menyerahkan pembayaran cicilan yang pertama.

Setelah cicilan pertama dapat terpenuhi, akhirnya terbentuklah sebuah tim untuk mencari dana pembangunan vihara  dengan melibatkan semua lapisan umat dari para mahasiswa dan pengusaha. Para pekerja yang terlibat didalamnya, semua bekerja dengan keras dan penuh semangat. Tetapi alangkah sedihnya waktu untuk pembayaran cicilan kedua segera tiba dana yang terkumpul belum juga tercukupi belum lagi cicilan yang selanjutnya. Kebingungan pun melanda  semua anggota tim meskipun selalu memacu semangat diri masing-masing dan meyakinkan diri sendiri bahwa semua itu bisa diatasi. Ketua Yayasan saat itulah yang terlihat begitu gelisah. Namun ditengah-tengah kebingungan semua tim ini, Sang ibu pembina mendapatkan kabar bahwa Eyang mengundang ketua Yayasan dan semua pengurus Vihara untuk berjumpa dengan beliau di Vihara Borobudur Medan. 

Sore itu juga seluruh tim berangkat ke Vihara Borobudur Medan dan menghadap Eyang. Peristiwa ini lah yang tidak akan sanggup dilupakan seumur hidup. Seorang umat memberikan kepada panitia dan yayasannya berupa selembar check kontan senilai sisa dari harga tanah yang harus dilunasi itu.  Semua yang hadir tidak dapat menahan rasa haru yang luar biasa saat itu, sepertinya seluruh panitia dan yayasan tidak percaya hal ini bisa terjadi ditengah kebingungan ada seorang dermawan yang menyelesaikan masalah yang sedang hadapi. Saat itu juga seluruh tim pengurus vihara tanpa sadar meneteskan air mata kebahagiaan. Sang dermawan itu sampai hari ini tidak diketahui siapa sesungguhnya yang jelas sang dermawan ini adalah seorang wanita.

Sepanjang perjalanan pulang semua panitia yang terlibat dalam kejadian ini di dalam mobil tidak ada yang tidak meneteskan air mata. Nah itulah kejadian yang tidak akan dapat dilupakan. Peristiwa ini pula lah yang terus mengalir dan memacu semangat para panita sampai saat ini untuk terus berkarya.  Singkat cerita TIDAK ADA HAL YANG TIDAK MUNGKIN bila kita terus berusaha dan memiliki cita-cita yang luhur. Mulai dari hari itu Vihara Buddha Narada pun sudah mulai dibangun karena dengan memiliki tanah maka para dermawan dan para donatur tidak lagi ragu mengulurkan tangan membantu dalam tahap penyelesaian. Meskipun saat ini Vihara belum selesai 100 %, tetapi umat Buddha Tanjung Morawa telah memiliki sebuah vihara yang luar biasa dengan baktisala-nya sudah dapat di pergunakan. Vihara Buddha Narada telah direncakanan akan diresmikan pada tanggal 12-12-2012. Semoga para pembaca dapat ikut berpartisipasi mengujungi vihara kami di Tanjung Morawa dan untuk ikut serta terlibat bersama kami para panitia pembangunan dan pengurus vihara merasakan kebahagiaan di dalam Ajaran Buddha Dharma. Sadhu3x.. (DSG).
 

 







Setelah Join di FB Group, Anda dapat melihat foto-foto dokumentasi Kegiatan Vihara Buddha Narada Tanjung Morawa dengan klik pada gambar foto dokumentasi di atas.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More