Wednesday, 28 November 2012

Vihara Buddha Narada - Tanjung Morawa

Sejarah Awal Berdirinya Vihara Buddha Narada Tanjung Morawa
(Jl. Karya Dharma Gg. Gambas No.1, Tanjung Morawa)

 Perkembangan ajaran Buddha di Tanjung morawa berawal dari 3 orang guru yang bernama Alm.Romo Chayono Bakti {Cu Sien}, Ibu Rini, dan Pandita R. Sondran. Sejarah berawal dari sekitar ahun 1985 saat nara sumber kami masih duduk di bangku kelas IV SD, ketiga guru ini setiap Minggu tekun dan rutin datang ke desa kami untuk mengajarkan Dhamma. Mengajarkan cara membaca paritta kepada anak-anak sekali minggu. Tempat belajar Dhamma saat itu bukanlah di Cetya atau di Vihara, tetapi di sebuah Kelenteng {BUDI MURNI , GO YA KONG BIO} milik Bapak Akhiok yang merelakan ruangan untuk ritual sembahyang dewa dijadikan baktisala (tempat melaksanakan kebaktian kepada Buddha)
Ketiga guru dan pemilik kelenteng tersebut bukan saja telah berdana tenaga dan tempat, tetapi mereka juga berdana makanan setiap Minggu-nya kepada para umat dan anak-anak yang setia mengikuti kebaktian di kelenteng ini. Kalo tidak salah kegiatan Sekolah Minggu tersebut berjalan dengan lancar selama 3 tahun lamanya. Pada waktu itu sekitar 20-an anak yang di visudhi di Vihara Borobudur oleh Su Kong {Yang Mulia Bhante Ashin Jinarakhita} dan Eyang {Yang Mulia Bhante Jinadhammo Maha Thera} dan kami pun sempat merayakan Hari Suci Waisak 2 kali dan setelah itu kegiatan Sekolah Minggu pun berakhir sampai saat itu, karena Kelenteng milik pak Akhiok telah di jual kepada pihak lain. dan kita tidak memilki tempat lagi untuk melakukan kebaktian.
 
Beberapa tahun kemudian Romo Mulajaya {papa nara sumber kami} membuat sebuah Cetya kecil di rumah milik sendiri. Hampir setiap minggu ada sekitar 5 orang umat dan anggota keluarga yang turut hadir melakukan kebaktian. Setiap tahun kami merayakan perayaan hari Waisak di rumah dengan sangat sederhana. Dengan mengundang beberapa anggota alumni Sekolah Minggu dan orang tua mereka melakukan Puja Bakti dan makan bersama. Makanan ini lah yang kemudian menjadi ciri khas perayaan Waisak pada saat itu dan sampai saat ini yaitu Lontong Waisak.  Pada saat itu belum tau tradisi apa yang akan diikuti di Cetya kecil ini berhubung karena 3 orang guru mengajarkan ke-3 tradisimua, jadi kebaktian yang dilakukan saat itu berjalan sesuai aja apa yang  diajarkan oleh pemimpin upacara kebaktian. Yang jelas umat saat itu mengetahui bahwa sebagai umat Buddha maka Buddha Sakyamuni yang menjadi Guru Agung.
Pada saat perayaan Waisak di tahun 2550 BE atau tahun 2006 yang silam, Pemilik Cetiya saat itu berencana mengundang Bhikkhu untuk turut hadir dalam perayaan hari Waisak, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengundang para Bhikkhu. Singkat cerita akhirnya keputusannya adalah pergi ke Vihara Borobudur untuk mengundang salah satu Bhikhu yang menetap di sana. Pada saat itu ternyata ada Bhikkhu yang menyatakan bersedia hadir yaitu Bhikkhu Pannasami dan Bhikkhu Aggacitto. Perayaan Waisak pun berhasil diselenggarakan pada saat itu dengan cukup meriah dan dihadiri banyak umat Buddha khususnya yang berdomisili di Desa Tanjung Morawa. Hal ini mungkin disebabkan karena para umat ingin melihat seorang Bhikkhu itu seperti apa, karena sebelumnya belum pernah ada Bhikkhu yang datang berkunjung. Ternyata dimulai dari saat itu lah agama Buddha mulai berkembang di Desa Tanjung Morawa hal ini tampak jelas karena sebelumnya hanya berjumlah tidak lebih dari dua kepala keluarga saja yang memahami ajaran Buddha yang sesungguhnya. Pada saat itu kebanyakan adalah umat tradisi dan umat yang hanya tertera agama Buddha KTP. Melihat umat di Desa Tanjung morawa begitu antusias dan saat itu Cetya sudah tidak mampu menampung sejumlah umat yang hadir saat itu, maka Yang Mulia Bhante Pannasami memberikan ide untuk mendirikan sebuah vihara sederhana. Rencana ini harus disetujui terlebih dahulu oleh Eyang {Yang Mulia Bhante Jinnadhammo Maha Thera}. Singkat cerita pertemuan dengan Eyang berlangsung dengan mulus dan Eyang sangat mendukung hal ini, dengan memberikan sebuah nama Vihara yang akan dibangun di desa Tanjung Morawa ini dengan nama "VIHARA BUDDHA NARADA”

Sejak itulah timbul semangat yang luar biasa karena telah mendapat dukungan dari anggota Sangha terutama Eyang dan kemudian Yang Mulia Bhante Pannasami ditunjuk langsung oleh Eyang sebagai PEMBINA umat Buddha di Desa Tanjung Morawa.  Akhirnya babak awal pembangunan vihara dimulai dengan membentuk sebuah yayasan bernama Persamuan umat Buddha dan Muda-mudi Vihara Buddha Narada. Program kegiatan Pengumpulan Dana pun langsung direalisasikan pada saat perayaan Hari ASADHA PUJA dengan menyelenggarakan sebuah acara bazar amal.  Para pengurus pada saat itu yang sangat minim pengalaman dengan dukungan dari Muda-Mudi dan para umat sukarelawan berasal dari vihara lain. Acara Bazar Amal pun sukses terlaksanadan tidak disangka ternyata kegiatan Bazar Amal pada saat itu menjadi kegiatan Bazar Amal yang terbesar dan termeriah di Sumatera. Dalam waktu hanya 1 malam terkumpul dana sebesar Rp 60.000.000 lebih dimana dana ini sudah dipotong semua biaya kegiatan.
Beberapa minggu setelah kegiatan bazar amal berlalu, panitia pun bergegas mencari sebidang tanah pertapakan untuk membangun Vihara. Rencana awalnya membeli ukuran tanah seluas ±10x20 meter saja tetapi tidak berhasil menemukannya. Jadi untuk sementara waktu masih menyewa sebuah rumah umat yang sederhana utk di jadikan vihara sementara agar umat bisa melakukan kegiatan puja bakti dan kegiatan sosial. 3 bulan lebih telah berlalu dalam pencarian juga belum membuahkan hasil. Pada akhirnya seorang pengusaha menawarkan tanah miliknya dimana tanah tersebut memang sangat cocok untuk dibangun sebuah vihara karena berdasarkan letaknya yang di atas bukit (tempat yang agak tinggi sedikit dari jalan biasa) dan tidak terlalu luas {± 5000 meter} dengan syarat tidak boleh dibeli sebagian saja, harus semuanya sekaligus. Untunglah untuk pembayarannya dapat dicicil sebanyak 5 kali.  Harga tanah saat itu sekitar Rp 600.000.000,- (enam ratus juta rupiah) sementara dana yang dimiliki hanya sekitar seratus juta yang terkumpul dari hasil keigatan bazar dan dana sukarela dari umat. Dengan tekad yang timbul sepontan saat itu untuk mendapatkan tanah ini, maka terjadilah usaha untuk menyerahkan pembayaran cicilan yang pertama.

Setelah cicilan pertama dapat terpenuhi, akhirnya terbentuklah sebuah tim untuk mencari dana pembangunan vihara  dengan melibatkan semua lapisan umat dari para mahasiswa dan pengusaha. Para pekerja yang terlibat didalamnya, semua bekerja dengan keras dan penuh semangat. Tetapi alangkah sedihnya waktu untuk pembayaran cicilan kedua segera tiba dana yang terkumpul belum juga tercukupi belum lagi cicilan yang selanjutnya. Kebingungan pun melanda  semua anggota tim meskipun selalu memacu semangat diri masing-masing dan meyakinkan diri sendiri bahwa semua itu bisa diatasi. Ketua Yayasan saat itulah yang terlihat begitu gelisah. Namun ditengah-tengah kebingungan semua tim ini, Sang ibu pembina mendapatkan kabar bahwa Eyang mengundang ketua Yayasan dan semua pengurus Vihara untuk berjumpa dengan beliau di Vihara Borobudur Medan. 

Sore itu juga seluruh tim berangkat ke Vihara Borobudur Medan dan menghadap Eyang. Peristiwa ini lah yang tidak akan sanggup dilupakan seumur hidup. Seorang umat memberikan kepada panitia dan yayasannya berupa selembar check kontan senilai sisa dari harga tanah yang harus dilunasi itu.  Semua yang hadir tidak dapat menahan rasa haru yang luar biasa saat itu, sepertinya seluruh panitia dan yayasan tidak percaya hal ini bisa terjadi ditengah kebingungan ada seorang dermawan yang menyelesaikan masalah yang sedang hadapi. Saat itu juga seluruh tim pengurus vihara tanpa sadar meneteskan air mata kebahagiaan. Sang dermawan itu sampai hari ini tidak diketahui siapa sesungguhnya yang jelas sang dermawan ini adalah seorang wanita.

Sepanjang perjalanan pulang semua panitia yang terlibat dalam kejadian ini di dalam mobil tidak ada yang tidak meneteskan air mata. Nah itulah kejadian yang tidak akan dapat dilupakan. Peristiwa ini pula lah yang terus mengalir dan memacu semangat para panita sampai saat ini untuk terus berkarya.  Singkat cerita TIDAK ADA HAL YANG TIDAK MUNGKIN bila kita terus berusaha dan memiliki cita-cita yang luhur. Mulai dari hari itu Vihara Buddha Narada pun sudah mulai dibangun karena dengan memiliki tanah maka para dermawan dan para donatur tidak lagi ragu mengulurkan tangan membantu dalam tahap penyelesaian. Meskipun saat ini Vihara belum selesai 100 %, tetapi umat Buddha Tanjung Morawa telah memiliki sebuah vihara yang luar biasa dengan baktisala-nya sudah dapat di pergunakan. Vihara Buddha Narada telah direncakanan akan diresmikan pada tanggal 12-12-2012. Semoga para pembaca dapat ikut berpartisipasi mengujungi vihara kami di Tanjung Morawa dan untuk ikut serta terlibat bersama kami para panitia pembangunan dan pengurus vihara merasakan kebahagiaan di dalam Ajaran Buddha Dharma. Sadhu3x.. (DSG).
 

 







Setelah Join di FB Group, Anda dapat melihat foto-foto dokumentasi Kegiatan Vihara Buddha Narada Tanjung Morawa dengan klik pada gambar foto dokumentasi di atas.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More