Dhamma itu Indah pada awalnya, Indah pada Tengahnya, dan Indah pada Akhirnya...

Thursday, 10 May 2012

Kualitas Pribadi yang Disukai


Happy Moment, Happy in Dhamma

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhasa


Kualitas Pribadi Yang Disukai

Dalam Balapandita Sutta, Majjhima Nikaya, Sutta Pitaka, disebutkan ada tiga ciri orang yang berkepribadian baik yakni:
  • Succintitacinti, - lazim berpikir dalam hal-hal yang baik/bijak
  • Subhasitabhasi, - lazim berucap dalam hal-hal yang baik/bijak
  • dan Sukatakammakarikari, - lazim bertindak dalam hal-hal yang baik/bajik.

Berdasarkan Sutta tersebut, ciri-ciri orang yang mempunyai kepribadian baik dapatlah diklasifikasikan dalam tiga kelompok, yaitu: pikiran yang baik sebagai sifat orang yang baik ( pandita-lakkhana ), ucapan yang baik sebagai gambaran orang baik ( pandita-nimmita ), dan tindakan yang baik sebagai tanda orang yang mempunyai kepribadian yang baik ( pandita-padana ).

Pada dasarnya setiap orang mempunyai keinginan untuk membentuk kualitas diri yang baik, dan menjadi orang yang disukai banyak orang dalam artian bisa berinteraksi dan berkomunikasi baik dengan sesama. Hal ini sangat bermanfaat karena Dhamma selalu mengarah ke arah kita untuk membentuk kualitas baik batin maupun jasmani. Buddha selalu menganjurkan kita untuk selalu bertindak baik, menanam sesuatu yang baik dan tidak menganjurkan kita untuk berbuat jahat. Kualitas diri ini yang menjadi tujuan utama dalam membentuk manusia yang mempunyai toleransi terhadap sesama. Ada beberapa faktor yang menunjukkan kepribadian seseorang mempunyai kualitas diri yang baik, yaitu:

1.Ketulusan

ketulusan menempati pringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongin. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mangada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya "ya diatas ya dan tidak diatas tidak". Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

2.Kerendahan Hati

berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahan hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orangyang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang di atas nya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

3. Kesetiaan

kesetian sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat. termasuk kesetiaan terhadap Ajaran Buddha.

4. Positive Thinking

Orang yang bersikap positif ( positive thinking ) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih sua membicarakan kabaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya. Sebaliknya, ketika ada orang yang mengecam ia selalu berfikir positif dengan mengatakan; semoga mereka selalu berbahagia, ketika ada orang yang menuduhnya, ia akan selalu mengatakan; semoga mereka berbahagia. bersikap positif adalah symbol berkembangnya latihan yang kita lakuka.

5. Keceriaan

Ceria adalah kata hati yang indah sedang terungkap. Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekpresi wajah dan tubuh tapi sakit hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa menertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang laiin.

6. Bertanggung jawab

Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalakan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang di alami dan di rasakan ( kalyanam va papakam va tass dayada bhavassanti).

7. Percaya Diri

Rasa percaya diri mungkin seseorang menerima dirinya sebagai adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan melakukannya dengan baik.

8. Kebesaran jiwa

Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memanfaatkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya di kuasai oleh rasa benci dan permusuhan. ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

9. Easy Going

Orang yang easy going mengangap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khwatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrol nya. Biarpun orang mengunjingkannya ia akan selalu melepas, dan tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan karena ia tahu bahwa apa yang mereka gunjingkan adalah apa yang mereka tanam. maka mereka harus bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya. Orang yang easy going akan selalu tidur dengan nyenyak, dapat menyelesaikan tugas-tuganya, melakukan aktivitas sebagaimana mestinya. Dan selalu membangkitkan orang-orang yang belum sadar dalam aktivitas positif demi menjunjung nilai-nilai positif didalam Dhamma.

10. Empati

Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tetapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya dirisendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain. dan selalu tidak membiarkan orang lain berbuat jahat, orang yang berempati selalu mengajak teman-temannya untuk melakukan hal yang baik.

Kesimpulan

kualitas seseorang bukan karena materi yang dimiliki tetapi apa yang mereka kerjakan merupakan manifestasi dari pribadi yang baik. Buddha selalu menunjukkan jalan yang terbaik demi kualitas batin seseorang untuk merealisasi kebahagiaan yang hakiki. Kualitas pribadi kita adalah symbol dari kebahagiaan itu sendiri. Berdasarkan pribadinya, orang yang mempunyai kualitas baik tidak tidak kejahatan apapun yang dilakukannya; segala tidakan, ucapan dan perbuatannya selalu mengandung kebijaksanaan. Di dalam Dhammapada, misalnya; Buddha mengatakan;

"seandainya seseorang bertemu dengan orang bijak atau yang mempunyai kepribadian baik yang mau memberi nasihat, hal itu seperti menunjukkan harta karun, hendaklah ia bergaul dengan orang yang bijak itu. Pergaulan dengan orang semacam itu niscaya membawa kemajuan dan perkembangan, bukan kemerosotan atau keruntuhan.. Seperti halnya berkumpul dengan sanak keluarga sendiri, demikian pula pergaulan dengan orang yang mempunyai kepribadian baik, senantiasa membawa kebahagiaan."

Menekankan betapa besar manfaat yang dapat diraih melalui pergaulan dengan orang yang berkepribadian bai, dalam Ekanipata, Anguttara Nikaya, Buddha Gaotama bersabda: "Saya tidak melihat adanya satupun sebab luar yang dapat menimbulkan kemajuan sebesar penyamai pergaulan dengan orang yang berkepribadian baik."

Didalam Theragatha 405, Khuddaka Nikaya, Sutta Pitaka, Y.M Bhante Ananda Thera juga memaparkan bahwa pergaulan dengan orang yang berkepribadian baik, yang memiliki keyakinan, kesilaan dan kebijaksanaan, dan pengetahuan niscaya akan membawa kemajuan dan perkembangan yang besar.

Dalam sagatha Vagga 80, di nyatakan satu ungkapan dari seoorang Siladevaputta yang berbunyi: Hendaknya seseorang bersahabat akrab dengan orang yang bekpribadian baik. karena, dengan mengetahui kebenaran sejati yang yang dimilikinya seseorang akan terhindarkan dari segala macam penderitaan. Dengan ungkapan yang berlirik sama, sekelompok dewa satullpakayika menganjurkan: hendaknya seseorang bargaul dengan orang yang berkepribadian baik. Karena dengan mengetahui kebenaran yang dimilikinya, seseorang akan terhindar dari kejahatan, miliki kebajikan dan kebijaksanaan, terbatas dari kesusahan/kesedihan, senantiasa berseri-seri, terlahirkan di Alam Surga, dan dapat menikmati kebahagiaan sepanjang waktu.

diambil dari Buku Y.M Bhikkhu Khemanando-Terapi Hati Menurut Buddha Dharma (Heart Treatment) (2011).

Tuesday, 8 May 2012

Be Mindful

Be Mindful- diambil dari Buku Y.M Bhikkhu Khemanando-Terapi Hati Menurut Buddha Dharma (Heart Treatment) (2011).

Namo Tassa Bagavato Arahato Sammasambuddhassa

Happy Moment, Happy Dhamma

Appamado amatapadam pamado maccuno padam

Appamatta na miyanti Ye pamatta yatha mata

Arti nya; kesadaran adalah jalan menuju kekekalan,

kelengahan adalah jalan menuju kematian. Orang yang sadar

tidak akan mati, tetapi orang yang lengah seperti orang yang telah mati.

Menjalani hidup dengan penuh kesadaran mungkin menurut anda mudah, jangan salah, menjalani kehidupan kita dengan sadar bukan perkara remeh, kualitas kehidupan kita di bentuk oleh kesadaran kita dalam melakukan segala sesuatu. Masalahnya, hampir semua orang menjalani hidup tidak dengan kesadaran penuh. Anda mungkin keberatan dan mengatakan; tidak mungkin" saya selalu sadar setiap saat. Saya melakukan segala sesuatu dengan penuh kesadaran". tapi benarkah begitu?? Mari kita lihat.

Ada dua jenis kesadaran, kesadaran batin dan kesadaran jasmani. Kesadaran batin adalah menyadari mengenai siapakah diri kita, dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup dan kemana kita akan pergi. kesadaran jasmani adalah kesadaran dalam keseharian kita . Di sini kita menyadari sepenuhnya apa yang sedang kita lakukan, pikiran dan rasakan.

Banyak permasalahan yang kita hadapi terjadi semata-mata karena kurangnya kesadaran pada saat kita melakukan. Apa Anda pernah bercanda kelewat batas?? Apakah anda pernah keseleo bicara tentang sesuatu yang tidak pantasnya? Pernah bukan? Ini menunjukkan kita sering kehilangan kendali kesadaran atas apa yang kita lakukan. Anda baru sadar telah bercanda tidak pada tempat nya begitu ada kawan merasa terluka, anda baru sadar telah bertindak kasar setelah orang lain sakit hati, anda baru sadar telah berbohong setelah hal itu menimbulkan masalah.

Ada dua penyebabnya, pertama, kita sering melakukan sesuatu secara optimis. Sangking rutinnya hal tersebut, kita melakukannya tanpa berpikir, kita hanya bergerak seperti robot. Kedua, kita tidak menyadari perasaan apa yang muncul dalam diri kita setiap saat. Padahal perasaan inilah yang mendorong kita untuk melakukan berbagai tindakan.

Menyadari perasaan perasaan yang muncul setiap waktu merupakan kunci keberhasilan kita dalam hidup anda harus mampu mengenali dan mendefinisikan berbagai macam perasaan yang datang silih berganti. Begitu anda marah, sadarilah bahwa anda sedang marah. Begitu anda takut, sadarilah anda sedang takut . Begitu anda sedang tergoda, apakah oleh uang, kekuasaan, jabatan maupun yang lainnya. Sadarilah bahwa anda sedang tergoda, anda harus mampu menyadari perasaan yang timbul. Sadari dan akuilah perasaan itu. Ini nama nya kesadaran yang tepat waktu. Dengan demikian anda dapat membunuh "monsternya" selagi ia masih kecil.


Salah satu kemajuan sepiritual kita adalah sejauh mana kita dapat menjaga kesadaran kita setiap saat. Inilah yang di sebut mindfulness yaitu hidup dalam kesadaran dan keterjagaan pikiran. Mindfulness membuat kita lebih fokus. Ini membantu kita memberikan perhatian pada apa yang tengah kita berikan perhatian, membuat kita hidup di dalamnya, serta menikmati dan mengapresiasi saat membantu kita benar-benar melihat apa yang sebenar nya tengah terjadi.


Intinya, untuk dapat menikmati hidup, orang harus memiliki kesadaran setiap saat. Sederhana sekali bukan?? Inilah cara termudah/murah untuk dapat menikmati hidup yang berkualitas. Anda tidak perlu melakukan apapun. Tidak perlu membayar pajak dan sebagainya. Yang anda perlu cuma satu; menyadari. maka Buddha mengatakan didunia ini ada dua Dhamma yang amat menolong (uparakara Dhamma ) yaitu;

Sati yang berarti Ingatan, perhatian, kewaspadaan, dan kesadaran. Sedangkan Sampajanna berarti menyadari.

mengapa para pertapa pergi pertapa? karena dengar pertapa mereka dapat menyadari setiap gerakan dari tubuh mereka, merasakan setiap helaan nafas mereka. Mengapa banyak orang datang untuk bermeditasi? Karena dengan meditasi kesadaran atas tubuh dan pikiran kita. Apa inti dari meditasi? Juga kesadaran. Kesadaran untuk menikmati setiap irama gerakan tubuh. Di dalam Dhammapada, Appamada Vagga, dikatakan;

Utthanavato satimato sucikammassa nisammakarino

Sannatassa ca dammajivino Appamattassa yaso bhivaddhati

yang artinya orang yang penuh semangat, selalu sadar, murni dalam perbuatan, memiliki pengendalian diri

Tapi anda tak perlu jauh-jauh pergi bertapa untuk mendapat ketenangan. Anda hanya perlu kesadaran dalam menjalani kehidupan anda. Rasakan setiap gerakan tubuh anda. Rasakan setiap helaan nafas anda, rasakan pemandangan di jalan yang anda lalui ketika berangkat kerja. Dan rasakan ketenangan meliputi hari-hari anda. Selamat mecoba....



Sunday, 22 April 2012

Ayam di dalam Sebuah Kandang


Ayam di dalam Sebuah Kandang

Ketika perhatian penuh dan pikiran bertugas datang bersamaan, akan muncul suatu perasaan. Jika pikiran telah siap untuk damai, ia akan terkurung dalam sebuah tempat yang penuh kedamaian, seperti seekor ayam yang kita masukkan ke dalam sebuah kandang.

Ayam itu tidak dapat keluar dari kandang, tetapi ia bisa berjalan maju dan mundur di dalam kandang. Berjalan maju dan mundur di dalam kandang bukanlah suatu masalah, selama ia berjalan maju dan mundur di dalam kandang.

Perasaan akan pikiran ketika kita menggunakan perhatian penuh untuk menjaganya agar tetap damai, perasaan dalam tempat penuh kedamaian, bukanlah sesuatu yang akan membangunkan kita. Dengan kata lain, ketika ia merasa, ketika ia berpikir, biarkan ia merasa dalam kedamaian. Hal ini tidak menjadi masalah.

108 Perumpamaan Dhamma
Ajahn Chah.

Vegetarianisme, bhikkhu dan daging tiruan


Vegetarianisme, bhikkhu dan daging tiruan

Apakah menjadi vegetarian adalah keharusan bagi umat Buddha?

Dalam ajaran Buddha, menjadi vegetarian atau tidak, tergantung sepenuhnya pada pribadi itu sendiri. Apa yang ditekankan dalam ajaran Buddha bukanlah kemurnian dari makanan, tetapi kemurnian dari pikiran.

Tentu saja, banyak umat Buddha, yang kemudian menyadari kekejaman yang terlibat dari konsumsi daging, yang tidak lebih dari sekedar daging binatang malang. Banyak yang berhasil dalam mengakhiri nafsu keinginan dan keterikatan pada konsumsi daging, dan pada akhirnya menjadi vegetarian atas kehendak mereka sendiri.

Akan tetapi, apabila menjadi vegetarian tidak sesuai atau terlalu sulit, maka ambillah jalan dimana anda merasa nyaman dengannya. Meskipun demikian, menjadi vegetarian sekurang-kurangnya sekali atau dua kali dalam sebulan adalah cara yang baik dalam mempraktekkan belas kasih pada semua makhluk hidup, dengan kesadaran menghindari daging setidaknya pada hari itu.
Buku yang dengan sangat baik menguraikan pandangan Buddhis tentang Vegetarianisme adalah karangan Philip Kapleau’s “Menghargai setiap kehidupan”.



Mengapa sebagian bhikkhu makan daging?

Buddha menolak larangan makan daging di antara pengikut Beliau. Beliau memiliki alasan yang sangat praktis dalam hal ini karena makanan sayur-sayuran tidak cukup tersedia di beberapa area, atau bisa jadi sangat langka pada musim kering. Sebagai contoh, makanan sayur-sayuran sangat terbatas di tempat seperti Tibet.

Para bhikkhu bertahan hidup dengan cara meminta sedekah dan apabila meminta sedekah hanya dibatasi pada makanan sayur-sayuran, maka hal ini bisa menjadi beban besar bagi umat awam yang mendukung para bhikkhu. Jadi, para bhikkhu makan apa saja yang diberikan kepada mereka, bahkan jika itu daging, sepanjang binatang tersebut tidak secara khusus dibunuh untuk mereka.
Dewasa ini, walaupun banyak bhikkhu dan vihara memiliki pilihan untuk makanan sayur-sayuran. Namun, harus diperhatikan bahwa sebagian besar bhikkhu dalam tradisi Mahayana adalah vegetarian ketat.

Bukankah vegetarian umat Buddha yang mengkonsumsi daging tiruan bersifat munafik? Mengapa harus daging tiruan?

Daging tiruan adalah makanan popular vegetarian yang terbuat dari ketan, kacang kedelai atau jamur yang meniru tampilan dan rasa dari daging beneran. Umat Vegetarian Buddhis terkadang dituduh munafik karena mereka mengaku menghindari daging namun makan segala jenis daging tiruan. Kaum vegetarian umumnya tidak berkeinginan untuk mengkonsumsi sesuatu yang melibatkan penderitaan dan pembunuhan dari hewan yang malang. Jadi, mereka tidak memandang daging tiruan sebagai ‘daging’ tetapi hanyalah sesuatu yang memberikan keragaman makanan.

Daging tiruan pada awalnya diproduksi untuk menarik non-vegetarian pada makanan vegetarian. Misalnya, daging tiruan tersebut dapat dimakan oleh pemakan daging yang ingin menjadi vegetarian, berhubung makanan tersebut memudahkan transisi menuju vegetarian penuh.
Dalam kasus apapun, makan daging tiruan masih jauh lebih baik dari makan daging binatang asli.



Buddha :
“Semua makhluk mencintai kehidupan,
Semua makhluk mencintai kebahagiaan.
Dengan diri sendiri sebagai perbandingan,
kamu tidak seharusnya melukai atau membunuh,
Atau menyebabkan luka atau terbunuhnya makhluk lain.”

JUSTBEGOOD.net

Sunday, 15 April 2012

Gema Vesakha 2556/2012 di ITBC



"Ciptakan Harmoni untuk semua Makhluk"
Diselenggarakan pada tanggal : 6 Mei 2012
pada Jam 08:00 s.d selesai.

Lomba cerdas Cermat
Lomba Baca Dhammapad
Lomba Mewarnai & Menggambar Buddhis
Lomba Menyanyi Buddhis

Informasi :
Abadi (085762442500)
Yenni : 08126555476

Wednesday, 11 April 2012

Gema Vesakha Hadirkan Kasih untuk Semua



Undangan ditujukan kepada seluruh muda/ mudi dan semua mahasiswa/i dari kampus" yg di Medan

Acara Peringatan Hari Vesakha 2556 BE untuk kalangan muda-mudi, mahasiswa/i di kampus-kampus kota Medan.
Acara diselenggarakan oleh : KMB UNPRI.
didukung Oleh : Dayaka Sabha ITBC

Mohon kehadirannya di acara ini yang bertempat di :
Indonesia Theravada Buddhist Centre (ITBC),
Cemara Asri Jl. Boulevard Utara No.1 Medan.

Hari/ tanggal : Sabtu, 19 Mei 2012
Waktu : 18.00 WIB

Dengan tema : "Gema Vesakha Hadirkan Kasih untuk Semua"

Turut mengundang para anggota Sangha :
- Y.M. Bhikkhu Pannasami
- Y.M. Bhikkhu Khemanando
- Y.M. Bhikkhu Aggacito
- Y.M. Bhikkhu Thitavamso
- Y.M. Bhikkhu Canda Silo


Susunan Acara sebagai berikut :
  • Puja
  • Kebaktian
  • Dhammadesana
  • pradaksina
  • pemberkahan
  • penutup

Dimeriahkan Dengan Pentas seni :
  • Drama Riwayat Sidharta
  • Buddhis Song
  • Mind Game
  • Magic Show
  • Dance
  • Dll

DEMIKIAN ACARA YANG AKAN DIADAKAN DALAM RANGKA PERINGATAN TRI SUCI VESAKHA 2556 BE/2012.

ATAS PERHATIANNYA KAMI MENGUCAPKAN TRIMA KASIH. ANUMODANA

Undangan Vesakha Puja 2556 BE/ 2012 di ITBC



Undangan Vesakha Puja 2556 BE/ 2012 di ITBC

Berikut Susunan Acara Malam Peringatan Hari Tri Suci Vesakha 2556 di ITBC:
pada hari : Minggu/ 6 Mei 2012 , Waktu 18.00 WIB

- Puja
- Kebaktian
- Dhammadesana
- Pradaksina
- Pemberkahan
- Penutup

Hiburan
- Buddhist Song
- Drama Riwayat Sang Buddha

Saturday, 17 March 2012

PIKIRAN MONYET - AJAHN BRAHM



Pada suatu hari Waisak disebuah wihara Sri Lanka - pada hari itu begitu banyak orang datang ke wihara - seekor monyet datrang dari rimba ke wihara, mencari-cari sesuatu untuk dimakan. Karena ada begitu banyak orang, pasti diantara pengunjug ada yang menjatuhkan sesuatu, dan para monyet begitu cekatan dalam menggambil mangga atau pisang dan memakannya gratis


Jadi kapan pun ada perayaan, para monyet selalu datang ke wihara. Monyet yang satu ini datang ke wihara saat melihat seorang biksu tengah berceramah. Lalu, ia mendengar biksu itu mengucapkan “pikiran monyet”.


“Pikiran monyet? Aha, ini menarik. Biksu ini sedang ceramah mengenai diriku.”

Ia pun pergiu ke jendela untuk mendengarkan. Namun ia mendengar apa yang biksu ini katakan mengenai pikiran monyet: bahwa pikiran monyet itu jelek, buruk, harus dienyahkan; bahwa jika Anda memiliki pikiran monyet, Anda bukanlah meditator, dan Anda seharusnya berlatih hingga batin menjadi lebih baik.

Ketika monyet ini mendengar pikiran monyet adalah hal yang jelek, ia menjadi sangat gusar. Monyet pun punya perasaan. Ia berkata, “Biksu ini! Dia melecehkanku! Dia bilang pikiran monyet itu jelek! Apa salahnya punya pikiran monyet? Toh monyet terlahir dengan batin seperti itu! Lalu kenapa sih manusia ini berusaha menyingkirkan pikiran monyet? Aku suka pikiran monyet! Aku akan ajukan protes pelecehan nama baik kaum monyet ini?!”

Monyet ini kembali ke hutan, menemui pemimpin kelompoknya, dan mengeluh, “Bos seharusnya tadi dengar apa yang biksu di wihara itu bilang mengenai kita! Mereka bilang pikiran monyet itu buruk, jahat, dan payah. Pikiran monyet harus disingkirkan! Dia merendahkan kita, dia menghina kita!”

Kemudian semua monyet lain juga jadi gusar mendengar ini. “Kita tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja! Ini tak bisa dibiarkan! Kita akan protes ke Komisi Hak Asasi, Amnesti Internasional, dan World Wildlife Fund.” Lalu mereka mulai meloncat, menandak-nandak ke segala arah, marah, sampai pemimpin monyet menghentikan mereka.

Pemimpin monyet berseru, “Stop! Lihat, kalian berlompatan liar ke sana kemari! Biksu itu benar! Itulah pikiran monyet! Meloncat ke sana kemari, mengeluh setiap saat, tidak bisa duduk diam”.

Seluruh monyet itu cukup arif untuk memahaminya, mereka mengatakan, “Ya ampun! Bos benar. Pikiran monyet itu memang jelek.”Lalu mereka semua jadi murung. “Apa yang bisa kita perbuat? Kita lahir dengan pikiran monyet. Bagaimana kita bisa menyingkirkan pikiran monyet?”

Lalu salah seekor monyet berkata, “Dengar! Dengar! Aku juga pernah ke wihara itu. Aku pernah lihat cara orang-orang menyingkirkan pikiran monyet dengan meditasi. Sebagai monyet, kita juga harus bermeditasi. Saat itu, batin kita akan jadi batin yang damai, dan ketika orang melihat kita, mereka juga ingin memiliki pikiran monyet yang damai. Ayo kita bermeditasi!”

Semua monyet berlompatan riang lagi, “Ya! Ayo meditasi! Mari kita meditasi!” Pemimpin monyet berteriak, “Diam semua! Itu kan pikiran monyet lagi! Terus, bagaimana cara kita bermeditasi?”

Monyet yang tadi berkata lagi, “Gampang sekali. Aku sudah melihat para biksu melakukannya. Letakkan kaki kananmu di atas kaki kiri, telapak tangan kananmu di atas telapak tangan kiri, punggung tegak, kepala agak menunduk. Aku tak tahu apa yang mereka kerjakan berikutnya, tapi mereka duduk seperti itu untuk waktu yang lama.”

Monyet-monyet itu juga melihat para biksu duduk di atas bantal kecil, maka mereka pergi ke hutan, mengumpulkan daun dan rumput, lalu membuat bantal duduk untuk mereka sendiri. Kemudian mereka semua duduk dan itulah pertama kalinya ad monyet bermeditasi.

Mereka meletakkan kaki kanan di atas kaki kiri, telapak tangan kanan di atas telapak tangan kiri, punggung tegak, kepala agak menunduk, dan mulai bermeditasi. Rimba tak pernah sesenyap itu… selama satu menit.

Tiba-tiba seekor monyet mengangkat tangan, “Permisi! Maaf! Aku baru saya terpikir nih! Pagi ini kita kan berencana pergi ke kebun pisang di sana, lalu mencuri pisang untuk makan siang. Aku tak bisa menyingkirkan pikiran itu, pikiran itu terus mengganggu meditasiku. Jadi rencanaku seperti ini: kita pergi saja ke kebun pisang itu, curi pisangnya, selesaikan urusan itu dahulu, supaya kita tak usah memikirkan soal itu lagi.”

Para monyet lain berseru, “Yoik! Ayo selesaikan urusan itu dulu. Aku juga terpikir seperti itu, lho!”

Mereka semua bangkit dari tempat duduk mereka, berlompatan dan berayun-ayun menuju kebun pisang, mencuri banyak pisang, membawanya kembali ke rimba. Saat itu belum tiba waktu makan siang, mereka memutuskan untuk mencuri pisang saja dahulu tapi tidak memakannya sampai tiba waktunya. Mereka menggumpulkan pisang dalam tumpukan besar, lalu kembali ke alas duduk mereka.

Mereka mulai bermeditasi lagi. Rimba kembali sunyi… kali ini hanya 30 detik.

“Interupsi!Interupsi!” ujar salah satu monyet, “Aku dari tadi terpikir bahwa sebelum kita bisa makan pisang, kita kan harus menguliti pisang dahulu. Bisakah kita menyelesaikan urusan ini dahulu? Kita tidak makan, hanya mengulitinya saja kok.”

Semua monyet lain setuju, “Yoik! Dari tadi aku pun berpikir begitu. Ayo kupas kulit pisang!!”

Mereka pun menguliti pisang-pisang itu, mereka tidak makan pisangnya, sebab belum waktunya makan siang. Mereka menumpuk semua pisang itu menjadi satu tumpukan besar.

Lalu mereka kembali bermeditasi.

Baru saja mereka memejamkan mata, “Mohon izin! Aku punya ide! Sebelum makan pisang, kita harus memasukkannya ke mulut kita dahulu. Mari kita masukkan ke mulut kita. Bereskanlah hal ini, barulah kita bisa meditasi!.”

“Yoik! Ide bagus!” Seru monyet lainnya. Jadi mereka masing-masing mengambil sebuah pisang, ada beberapa yang mengambil dua atau tiga- Anda tahulah bagaimana rakusnya monyet, lalu mereka memasukkan pisang ke dalam mulut mereka, namun belum memakannya….

Mereka kembali ke bantal meditasi mereka, dan mulai berme….

Bisakah mereka bermeditasi dengan pisang menjejal mulut mereka? Jelas tidak. Ketika semua monyet menutup mata, mereka semua mulai mengunyah pisangnya!

Itulah pikiran monyet!”Ayo bereskan urusan ini dahulu, baru aku bisa meditasi!” Atau, “Ayo selesaikan pekerjaan ini dahulu, baru aku bisa jadi baik.” “Ayo dapatkan satu miliar dahulu di rekening, baru aku bisa beramal.”

Tentu saja tidak begitu! Jika serba harus mengerjakan sesuatu dahulu, itu tak akan pernah selesai, kan? Apa yang benar-benar penting bukanlah makan pisang, tapi meditasi. Lihatlah, apa yang lebih penting? Mendapat banyak uang atau menikmati hidup? Mana yang lebih penting: menyelesaikan semua pekerjaan sebelum akhir pekan atau bersantai dan melewatkan waktu bersama keluarga?

Apa hal yang benar-benar penting dalam hidup? Anda sudah tahu, kok. Melewatkan waktu bersama dalam suatu hubungan, atau menemani anak-anak Anda, menjaga kesehatan Anda agar tidak terlampau stres, menjadi bajik, menjadi dermawan, kehidupan spiritual Anda, itulah yang benar-benar penting. Segala hal lainnya hanyalah urutan kedua.

Jika Anda tahu bagaimana menjalani hal-hal penting terlebih dahulu: kebaikan, kedamaian, kasih, kedermawaan, maka hal-hal selain itu akan menyusul belakangan. Anda tidak akan menjadi seekor monyet yang hanya berayun dari satu pohon urusan ke pohon urusan berikutnya, tanpa pernah menemukan kebahagiaan dan kedamaian sejati dalam hidup.

Ajahn Brahm - Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3!

Tuesday, 21 February 2012

BIOGRAFI GADEN TRITUL RINPOCHE XIII



Gaden Tritul Rinpoche XIII
Reinkarnasi Pemimpin Resmi Tradisi Gelugpa ke-32, Tinley Kunkyab Rinpoche dari Biara Sera Jhe, dilahirkan di Nangchen, Kham, Tibet. Rinpoche dilahirkan dalam sebuah keluarga yang secara tradisional memiliki keterikatan dengan kepercayaan lokal masyarakat Tibet, yaitu Bon. Akan tetapi keluarga ini kemudian beralih menjadi keluarga Buddhis. Keluarga Beliau ini telah menghasilkan banyak sekali guru-guru berpencapaian tingkat tinggi dari segala tradisi termasuk Yang Mulia Khenpo Baima Langji.

Ditengah-tengah banyak pertanda baik yang terjadi, Tritul RInpoche lahir pada tanggal 1 Maret di Tahun Naga Air 1952. Ayah Rinpoche adalah Xi Rao Ta Xin dan ibu Rinpoche adalah Zi Sang Bo Mu.

Kelahiran Rinpoche sesuai dengan ramalah dari Maha Guru Si De Bai Ma Wang Xiu Ji Bu dan juga Maha Guru Jiang Yang Zi Que Ji Yu Zui. Ramalah keduanya cocok karena berdasarkan kesepakatan bersama, Rinpoche adalah inkarnasi asli ke-13 dari Pemimpin Tradisi Gelugpa sebelumnya. Berdasarkan ramalan tersebut, "Raja Pelindung Semua Makhluk akan datang di tahun Naga Air." Setelah penyelidikan lebih lanjut, Rinpoche pun dianugerahi pengakuan resmi sebagai inkarnasi asli dari maha guru sebelumnya.

Di usia 4 tahun, pada hari suci kelahiran Buddha, Tritul Rinpoche menerima pelantikan sebagai pemangku 'Takhta Singa Kesatria' dalam sebuah upacara megah di Biara Gaden Tu Deng Er Lai. Dengan sisa pembelajaran Dharma yang sempurna dari kehidupan lampau, Rinpoche berbeda dengan anak-anak seusianya. Ketika Tritul Rinpoche menginjak usia remaja, Khenpo Ju Mei Zha Ba diangkat menjadi guru Sutra untuk Beliau. Tritul Rinpoche memiliki pengabdian dan penghormatan yang sangat tinggi kepada guru Beliau. Beliau pun senantiasa mengingat ajaran yang telah Beliau pelajari di kehidupan lampau.

Tritul Rinpoche memulai pelajaran dengan belajar membaca dan menulis. Beliau melanjutkan dengan menguasai semua pelajaran modern hingga ajaran Yamantaka Vajrabhairava Tantra dan juga ajaran Tantra Empat Raja Pelindung. Sejak muda Rinpoche telah menerima banyak ajaran dari guru Beliau, berbagai transmisi lisan dan inisiasi termasuk semua aspek ajaran yang berhubungan dengan penciptaan dan penyempurnaan tingkat kesucian, "Nyanyian Pembebasan", ajaran yang lengkap dan transmisi dari seluruh naskah agung.

Selain itu, Tritul Rinpoche mempelajari dan menerima banyak inisiasi dan transmisi dari berbagai maha guru:

  • Ikrar samanera dan ke-biksu-an melalui Lama Jiang Bai Ci Nai Jia Cuo dari Biara Drepung.
  • Pusaka Kebijaksanaan Manjushri dan Inisiasi Praktik Permisi melalui maha guru Mongolia Geshe Luo Song Seng Ge dari Biara Sera.
  • Inisiasi Yamantaka Merah, Tiga Makhluk Agung Murka Rupa, Praktik Umur Panjang dari Tulku Chang Du Jia Lang.
  • Inisiasi 'Bao Sheng Bai Gen' dari A Duo Ge De Cheng Xiao Za Bu.
  • Inisiasi Dua Puluh Satu Amanat Palden Lhamo, "Sinar Menteri Kebijaksanaan"; dan juga kitab komentar dari "Fuo Chuan Ba Sang Ci Xin" melalui Denma Locho Rinpoche dari Biara Drepung Loseling.
  • Transmisi dan ajaran lengkap Vajradhara Tu Mi dan Mahamudra dari maha yogi Si De Bai Ma Deng Yue.
  • Pusaka Baru, Heruka Chakrasamvara, Yamantaka, Lam Rim Chenmo melalui Khenpo Qi Mei Rao Teng dari Biara Bai Deng Zha Xi Shu Mang Neng Zhu Ling.
  • "Pusaka Langit", Phowa, "Jaring Teratai" yang merupakan praktik menuju tercapainya kelahiran kembali di Tanah suci Buddha AMitabha dan berbagai praktik penting lainnya dari Khenpo Jia Ma La Que.
  • Praktik Hati Lam Dre yang ditransmisikan tanpa putus dari keluarga Sakya Khon hingga pemimpin Tradisi Sakya sekarang, Da Qian Za Bu.

Disamping itu, Tritul Rinpoche selama bertahun-tahun telah belajar dan lulus dengan predikat kehormatan dari Sekolah Tinggi Buddhis Beijing yang didirikan oleh almarhum Panchen Lama. Saat sedang mengeyam pendidikan kuliah, Rinpoche telah mempelajari dan menerima ajaran dan pemberkahan dari berbagai Rinpoche, Geshe dan profesor Buddhis kenamaan, seperti Sia Dong Luo Suong Xi Zhu Jia Cuo, Se Chang Luo Song Bai Deng, Ci Ri Ci Lang, Dong Ge Luo Song Ci Nai, Qie Xue Luo SOng Ri Jia Cuo, Gan Min Klang CHang, Xiang Bai Au Wang, dan juga Khenpo yang telah mencapai realisasi Dzogchen, yaitu Si Lang Jia Cuo.

Di Bodhigaya, India, Tritul Rinpoche menerima 'Pelita Kebebasan Atisha', inisiasi Kalachakra dan sebagainya dari Raja Pelindung Semua Makhluk Yang Tiada Taranya, Sang Penerima Hadiah Nobel Perdamaian, Yang Ariya Dalai Lama ke-14.

Kabar gembira bahwa Yayasan Gaden Buddha Vajrayana bekerja sama dengan Indonesia Vidya Carita akan mengadakan event Gala Dinner Malam Amal "Apresiasi Kepad Guru" Bersama Y.M. Gaden Rinpoche XIII pada hari Kamis, 1 Maret 2012 mendatang.
Tepat pukul 18.00 WIB s/d selesai di Grand Aston Mahogany Grand Ballroom Lt.1, Jl. Balai Kota No. 1 Medan.

Untuk mendapatkan undangan dapat hubungi : Paula 0811643600, Bety 0811652026
Elina 08163170885 , Willian 061-77820175, Herman 085261053699


Event Grand Puja Arya 16 Arhats & The Peacock Wisdom Queen Mahamayuri Initiation.

Tuesday, 14 February 2012

Setetes Darah Bisa Menyelamatkan Orang Lain


Medan, (Analisa). Setetes darah sangat berguna bisa menyelamatkan orang lain dari kematian. Apalagi saat ini Palang Merah Indonesia (PMI) sangat kekurangan darah sehingga dibutuhkan kepedulian berbagai pihak untuk mendonorkan darahnya secara rutin.
Hal ini dikatakan Gunawan Harsojo di sela donor darah dalam rangka Capella Group Peduli yang digelar di Jalan Putri Hijau No. 5 Medan, Sabtu (11/2).

Di samping itu lanjut Gunawan Harsojo, donor darah apabila dilakukan secara teratur akan mengurangi resiko penyakit jantung dibanding yang tidak pernah mendonorkan darahnya.

"Ginjal juga terbantu karena sebagian dari sisa penghancuran darah akan dikeluarkan dari tubuh melalui ginjal," ujarnya.

Menurut Gunawan, donor darah juga mengeluarkan zat-zat berlebih yang mungkin merusak tubuh berupa asam urat, kolesterol dan lainnya. "Memang ada kemungkinan zat-zat itu kembali meningkat, tetapi dengan mengeluarkannya secara teratur akan membuat tubuh anda mempunyai waktu untuk memperbaiki diri," ujarnya.

Kemudian lanjutnya, pen.donor darah akan mendapat pemeriksaan kesehatan gratis karena sebelum mendonorkan darah seseorang akan diperiksa fisiknya secara sederhana seperti tekanan darah dan sebagainya. "Yang menerima darah anda pasti akan mendoakan pendonornya," kata Gunawan.

Mengenai Capella Group Peduli sendiri menurut Gunawan merupakan bagian dari corporate social responsibility (CSR) dari perusahaan. "Kepedulian kami dalam hal ini mendonorkan darah sehingga bisa membantu orang lain yang membutuhkannya melalui Palang Medan Indonesia (PMI).

Kegiatan seperti ini kata Gunawan sudah dilakukan yang kelima kalinya. "Tiap donor darah setidaknya diikuti 200 orang bahkan lebih," ujarnya. (rrs)|

Analisadaily.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More