Dhamma itu Indah pada awalnya, Indah pada Tengahnya, dan Indah pada Akhirnya...

Monday, 7 November 2011

Peringatan 42 Vassa Pengabdian Y.M Bhante Jinadhammo Mahathera



(Analisa/istimewa) Y.M Bhante Jinadhammo Mahathera (kanan) menyerahkan nasi tumpeng kepada Kepala Vihara ITCB Bhikkhu Khemanando (kiri) dalam rangkaian peringatan 42 tahun vassa pengabdiannya, di Vihara ITCB Jalan Cemara Boelevard Utara Komplek Cemara Asri Medan, Sabtu (5/11) malam.


Medan, (Analisa). Y.M Bhante Jinadhammo Mahathera mengajak suluruh Umat Buddha agar menghayati ajaran agama, serta meningkatkan kualitas kerukunan antar umat beragama.
"Salah satu caranya yakni dengan perencanaan hidup dengan memahami mulai dari butir-butir sila dari Pancasila,"ungkap Bhante dalam sambutannya pada acara peringatan 42 vassa pengabdiannya, di Vihara ITCB Komplek Cemara Asri Medan, Sabtu (5/11) kemarin.

Menurut Bhante, dengan kemajemukan umat beragama di Indonesia maka umat Buddha harus punya satu keyakinan dan wajib mengembangkan agama dan budaya.

Pada kesempatan itu Ketua Majelis Buddhayana Indonesia pusat yang diwakili Hendra Gunawan Chandra menyatakan, salut terhadap pengabdian Bhkikhu yang diakrab disapa Eyang tersebut.

Sebab baginya bukan mudah bagi umat dan bhikkhu yang mampu menjalani masa pengabdian selama 20 tahun. Bahkan diusianya yang menginjak 67 tahun, Eyang masih sering keliling vihara di berbagai belahan dunia sekaligus membangun pluralisme dan universalisme.

Begitu juga Bhante Avudhapanno Mahathera dari Thailand menegaskan bahwa, Bhante Jinadhammo Mahathera telah mampu melewati perjuangan yang sangat berat. Untuk itu Bhante Jinadhammo Mahathera pantas menjadi pemenang dhamma.

Puncak peringatan 42 Vassa Pengabidan Y.M Bhante Jinadhammo Mahathera ini, dimeriahkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan menampilkan Dalang kondang Ki Anom Suroto.

Mengambil lakon Bimasuci, Ki Anom memaparkan kisah ini mengangkat cerita tentang perjuangan Bima yang berguru dengan Dewaruci sekaligus mampu mengajak para anak muridnya untuk memperbaiki akhlak yang rusak.

Sementara itu Bhikkhu Khemanando memaparkan, acara ini merupakan yang pertamakali digelar di vihara sebagai suatu penghormatan atas pengabdianY.M Bhante Jinadhammo Mahathera. Dengan menghadirkan pagelaran hiburan wayang kulit merupakan performance yang berbeda, dimana pihaknya berarti telah turutserta dalam melestarikan budaya yang ada di Indonesia.

Dalam peringatan 42 vassa bertajuk Longlive Eyang tersebut, sebanyak 5 Bhante turut hadir menyaksikan pagelaran wayang semalam suntuk diantaranya Bhikkhu dari Norwegia Santikaro dan dari Thailand Bhante Avudhapanno Mahathera. (maa)

Friday, 4 November 2011

Berbahagia di atas Penderitaan

Berbahagia di atas penderitaan.

Salah satu faktor utama penyebab seorang anak manusia yang berbahagia di atas penderitaan makhluk lain adalah sifat irsia(irihati). Jenis manusia seperti ini tidak akan bergembira melihat keberhasilan/prestasi yang dicapai orang lain. Ia akan berusaha menjatuhkan orang tersebut dengan berbagai cara yang licik dan keji. Menyaksikan keberhasilan/ kebahagiaan orang lain adalah lebih bijaksana bila kita berinstropeksi diri mencari solusi yang positif menuju keberhasilan. Setidaknya dengan demikian, kita tidak menimbun karma buruk dalam kehidupan ini.


Pada zaman kekuasaan dinasti Bing (1368-1628) di negara tirai bambu, hiduplah seorang saudagar bernama Chan Ik Han. Ia merupakan orang yang pandai, tetapi memiliki jiwa yang serakah, licik dan irihati. Baginya uang adalah segalanya, apapun sanggup ia jual demi uang. Termasuk harga diri dan nama yang baik, bila perlu. Chan Ik H an ketika itu memiliki sebuah kilang penggilingan padi, dimana hasil sawah dan ladang para petani di desa itu ditampungnya dan diolah menjadi beras.

Para petani di desa tersebut hidup makmur disebabkan tanah yang subur dan usaha yang dilakukan mereka tanpa mengenal “lelah”. Menyaksikan kemakmuran para petani, Chan Ik H an yang telah kaya merasa irihati dan berpikir alangkah baiknya bila kemakmuran dari para petani itu dikoreknya. Maka sejak itu Chan Ik Han membeli hasil sawah dan ladang para petani dengan harga murah dan mengolahnya kemudian dijual dengan harga yang mahal. Disebabkan waktu itu hanya ia yang memiliki kilang penggilingan padi, maka ia dapat bertindak sesuka hatinya dengan meraup keuntungan sebesar-besarnya dari jerih payah dan keringat para petani. (Berbahagia di atas penderitaan makhluk lain).
Chan Ik Han yang kaya menjadi semakin kaya sehingga ia dikenal sebagai saudagar kaya yang serakah dna licik, tidak pernah memperdulikan nasib para petani yang miskin yang semakin miskin karena ulahnya yang tidak terpuji.


Tanah para petani yang bangkrut dibelinya dan kemudian ia sewakan kepada para petani dengan harga yang mencekik. Demikian sepak terjang Chan Ik Han yang tidak baik ternyata membumbung naik ke langit biru menembus awan hingga ke surga. Langit tidak akan merestui segala tindakan yang menyimpang dari kebenaran. Seperti yang pernah dikatakan Sang Buddha :Ia yang melanggar Dhamma karena bahwa nafsu, kebencian dan kebodohan. Nama baiknya akan menjadi suram. Bagaikan bulan sabit pada waktu gelap bulan.”

Pada suatu ketika, Chan Ik Han mengidap suatu penyakit aneh. Dimana tulang-tulang di tubuhnya sering mengalami kesakitan bagaikan dihujam seribu mata pedang. Sakit dan ngilu tulangnya membuat Chan Ik Han sangat menderita. Makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Telah banyak tabib yang dipanggilnya dengan bayaran mahal disebabkan hampir seluruh tabib disana mengetahui sifat Chan Ik Han. Dalam waktu singkat harta simpanan Chan Ik Han selama itu habis terkuras. Untuk biaya pengobatan penyakitnya. Ia mencoba mengakhiri hidupnya dengan melompat dari tebing yang tinggi di desanya karena putus asa kepada penyakitnya yang tak kunjung sembuh serta semua harta telah habis.

Ketika ia hendak melompat dari atas tebing yang tinggi dan curam, terdengar suara seseorang menggaung jauh dari jurang dibawahnya : “Penderitaan tak akan berakhir dengan kematian. Dengan berinstropeksi terhadap kesalahan sendiri, maka seseorang akan semakin dekat dengan kebijaksanaan. Hanya orang bijaksanalah yang dapt melihat dan menelusuri jalan mulia”.

Syair yang diucapkan seseorang itu bagaikan palu godam yang menghentak kesadaran Chan Ik Han yang terlena dengan materialistis selama ini. Semua bayangan kesalahan yang telah diperbuatnya melintas dibenaknya. Airmata penyesalan pun mengalir membasahi kedua pelupuk matanya. Ia bersimpuh menghadap langit dan berjanji akan merubah kesalahannya selama ini.

Sejak saat itu Chan Ik Han merubah sifat buruknya dengan menjalankan usahanya secara jujur dan meraup keuntungan yang sewajarnya. Para petani miskin diberi kesempatan menggarap tanahnya tanpa diambil sewa dengan hasil sawah dibagi seadil-adilnya. Penyakit yang dideritanya pun berangsur sembuh dan Chan Ik Han hidup dalam dami dan bahagia, karena ternyata sifat yang telah diubahnya lebih disenangi khayalak ramai.

Pembaca yang bijaksana, tempat dan tujuan tidak akan pernah dicapai apabila kita tak pernah memulai suatu perjalanan. Kembali kepada kita bertapak di jalan yang mulia atau di jalan yang tidak terpuji. Demikianlah pesan dari para ariya.

Dhammapada Atthakatha Syair 117

Apabila seseorang berbuat jahat, hendaklah ia tidak mengulangi perbuatannya itu dan jangan merasa senang dengan perbuatan itu.

Sungguh menyakitkan akibat dari menumpuk perbuatan jahat.

Bacaan diambil dari buku Moralitas edisi 7.

Monday, 31 October 2011

Perayaan Kathina Nasional di Medan Dihadiri Tiga Ribu Umat

Perayaan Kathina Nasional di Medan Dihadiri Tiga Ribu Umat

(Analisa/istimewa) Suasana perayaan Kathina Nasional yang dihadiri lebih dari tiga ribu diselenggarakan oleh Majelis Buddhayana Indonesia pada Minggu, (30/10) di Medan.
Medan, (Analisa). Lebih dari tiga ribu umat dari berbagai daerah hadir dalam Perayaan Kathina yang diselenggarakan oleh Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) pada Minggu, (30/10).
Ketua Umum Pengurus Pusat MBI UP.Sudhamek AWS SE,SH yang menyatakan bersuka cita atas pelaksanaan Kathina di Kota Medan serta diharapkan perayaan ini dapat dimaknai sebagai ladang kebajikan dan sarana pemersatu dengan mengembangkan rasa kekeluargaan yang penuh cinta kasih, sehingga terbina keharmonisan dalam kehidupan sosial masyarakat serta menjadi dasar ketahanan bangsa dan negara.
Publish Post


Ketua Panitia Upa. Riady Armin Hutama, ST menjelaskan bahwa MBI Sumut mendapat amanat Ketua Umum Sagin pada Musyawarah Kerja Nasional yang berlangsung pada 23 - 24 April lalu sebagai tuan rumah sekaligus Panitia Penyelenggara Perayaan Kathina dalam skala Nasional untuk kali pertama dilaksanakan di Kota Medan.

"Kami berterima kasih atas dukungan dari berbagai pihak yang menyukseskan kegiatan ini serta sambutan yang luar biasa dari umat Buddha. Kami meyakini membludaknya umat yang hadir tentunya ada yang tidak terlayani dengan baik untuk itu panitia berharap umat dapat memakluminya, " katanya.

Turut memberikan sambutan Pembimas Buddha Kanwil Depag Sumut, Ketut Supardi SAg, MSi.

Kehadiran sekitar 33 bhikkhu dari Sangha Agung Indonesia (Sagin) dalam satu seremonial Kathina adalah merupakan momen yang dinanti-nantikan sehingga umat Buddha yang hadir membludak. Di mana acara ini dihadiri oleh Mahathera Nyanasuryanadi (Ketua Umum Sagin), Mahasthavira Nyanamaitri (Maha Adhikari Sagin), Mahathera Aryakusalo (Nayaka Sangha Theravada Sagin) dan Mahathera Nyanakaruno (Ketua Wilayah I Sagin) serta bhikkhu lainnya.

Ketua MBI Sumut, Upa. Ir. Ony Hindra Kusuma menjelaskan bahwa Perayaan Kathina kali ini merupakan momen kebersamaan dalam melakukan kebajikan di ladang subur.

Beberapa Pengurus Pusat MBI berkesempatan menghadiri kegiatan ini mendampingi Ketua Umum Pengurus Pusat MBI UP.Sudhamek AWS SE,SH yakni MU. Phoa Krisna Putra dan UP.Tony Sasana Surya Dewan Pengawas PP MBI, Wakil Ketum UP.Amin Utario ST, Sekjen UP.Ir . Budiman MSIE dan Wasekjen Dady Pasamsa SAg beserta Pimpinan MBI dari berbagai daerah se Indonesia.

Persembahan Dana

Acara puncak berupa persembahan dana Kathina berupa 4 kebutuhan pokok kepada Sangha yang diawali oleh pimpinan pusat dan daerah, para sesepuh, pandita, badan otonom, Pembimas Buddha, anggota legislatif beserta tokoh masyarakat lainnya antara lain Ketua Walubi Medan Ir. Sutopo, Wakil Ketua Komisi A DPRDSU Sonny Firdaus SH, anggota DPRD Sumut Brillian Mokhtar, Anggota DPRD Lily Tan, Ketua Komisi E , Anggota DPRD Medan Hasyim, SE, Ketua Badan Kehormatan DPRD Kota Medan Janlie, SE dan Ketua REI Sumut Tomi Wistan.

Dilanjutkan dengan persembahan oleh seluruh umat yang hadir sebagai momen bakti kepada Sangha yang merupakan persaudaraan suci bhikkhu / bhikkhuni. Bagi umat Buddha, sangha merupakan lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta ini. pewaris dan pengamal Buddha Dharma yang patut dihormati. Setelah persembahan dilakukan oleh umat, bikkhu sangha memberikan gelang yang telah diberkahi kepada setiap umat Buddha.

Acara ditutup dengan pelimpahan jasa serta pemercikan air suci sebagai pelambang berkah dari anggota Sangha kepada umat yang hadir. Serta di akhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh anggota sangha dengan harapan hasil kebajikan bersama tersebut dapat membuahkan kamma bajik serta melimpahkan kebahagiaan serta keselamatan bagi semua mahkluk. (rrs/rel)

sumber : http://www.analisadaily.com/news/read/2011/11/01/19720/perayaan_kathina_nasional_di_medan_dihadiri_tiga_ribu_umat/#.Tq9XlXKE1mR

Saturday, 29 October 2011

DIAM


Diam

Latihan meditasi mengajarkan kita untuk duduk diam, untuk hening, untuk tidak melakukan apa pun. Karena terkadang dalam kehidupan, saat kita seharusnya duduk diam tanpa berbuat apa-apa, kita sering gagal dan begitu gatalnya sehingga melakukan sesuatu yang akhirnya kita sesali. Tak heran filsuf Prancis, Blaise Pascal, pernah menyatakan bahwa masalah-masalah yang terjadi di dunia ini adalah karena manusia tidak pernah belajar untuk duduk diam.

Seperti juga yang terjadi ketika kita mencela dan menghakimi seseorang: Mengapa repot-repot mencela dan menghakimi? Bukankah setiap perbuatan adalah tanggungjawab kita sendiri dan kita tidak harus bertanggungjawab terhadap perbuatan orang lain?
Daripada membuang-buang tenaga untuk mencela dan menghakimi, menuding ke sana ke mari, mengapa tidak duduk diam dalam hening, mengamati nafas dan kesejatian kita, untuk memupuk kebajikan dan kebijaksanaan dalam diri sehingga pad suatu hari kita dapat membagi-bagikan buahnya kepada dunia?

Diambil dari buku Chuang- "SENYUM DONG" DUNIA BELUM KIAMAT(2009).

Tuesday, 25 October 2011

BELAJAR


BELAJAR

Salah satu hal yang paling menyenangkan dalam soal belajar sesuatu yang baru adalah, untuk dapat belajar dengan baik, kita justru harus mengosongkan pikiran kita dari segala pengetahuan yang kita ketahui sebelumnya. Persis seperti kisah Zen mengenai cangkir teh. Apakah Anda sudah pernah mendengar atau membaca kisah tersebut? Kalau belum, saya anjurkan Anda menghubungi toko buku terdekat.

Seperti kisah Zen tersebut, bagaimana mungkin cangkir yang sudah penuh dapat diisi lagi dengan the jika tidak dikosongkan terlebih dahulu? Bagaimana mungkin pengetahuan yang baru dapat masuk ke dalam otak kita jika pikiran kita penuh oleh pelbagai pengetahuan dan pra-anggapan yang kita peroleh pada masa lalu?

Disini, tampak jelas sekali untuk dapat belajar dengan baik, kita sebagai siswa dituntut untuk mampu bersikap rendah hati, untuk bersikap sebagai orang bodoh. Karena itu, saya ingat bahwa di film-film kungfu sering terlihat bagaimana seorang guru memberi tugas-tugas yang remeh temeh (seperti misalnya mengepel lantai, menimba air, memotong kayu) untuk menaklukan kesombongan seorang siswa yang bangga hati, sebelum ia diperbolehkan belajar kungfu.

Selain soal kerendahan hati, ada satu paradoks lagi mengenai belajar: makin kita banyak belajar, makin kita banyak mengetahui. Dan mengetahui disini termasuk juga mengetahui bahwa makin banyak yang tidak kita ketahui. Ini seperti rantai aksi reaksi. Ada aksi menimbulkan reaksi. Ada pengetahuan menimbulkan ketidaktahuan. Makin banyak aksi, makin banyak reaksi. Makin banyak pengetahuan, makin banyaklah ketidaktahuan kita.

Dalam hubugannya dengan ini, tidak heran jika ada ungkapan bahwa berbahagialah orang yang tidak mengetahui apa pun. Karena orang seperti itu tidak harus terkena kutukan mengetahui bahwa dia tidak mengetahui.

Sebab itulah, Buddha dalam perumpamaan mengenai daun simsapa mengatakan bahwa pengetahuan yang Beliau ajarkan itu ibarat hanya segenggam daun simsapa di tangan-Nya bila dibandingkan dengan pengetahuan yang tidak Beliau ajarkan. Karena bukan saja pengetahuan yang tidak diajarkan itu tidak berguna untuk mencapai pencerahan, melainkan juga bahwa terlalu banyak mengetahui segala sesuatu hal justru akan menyesatkan kita ke arah tidak mengetahui apa pun.

Begitulah, untuk dapat belajar dengan baik, kita harus pertama-tama bersedia berendah hati dengan mElupakan segala hal yang kita ketahui sebelum ini, segala hal yang menjadikan kita dikenal sebagai si tahu atau si cerdas. Dengan kata lain, proses belajar itu menyenangkan karena secara tidak langsung ia memaksa kita untuk bersikap rendah hati. Dan bukankah memiliki kerendahan hati itu ibaratnya memiliki permata yang tiada taranya?


Diambil dari buku Chuang “SENYUM DONG!, Dunia Belum Kiamat Lho”
Seri Dharma Putra Indonesia 2, Penerbit Ehipassiko Foundation, 2009.

Thursday, 20 October 2011

Vihara Dharma Aura



SEJARAH SINGKAT VIHARA DHARMA AURA

Bermula dari seorang tokoh Agama Buddha yang cukup dikenal di Sumut, khususnya di Medan yaitu Alm. Romo Pandita Dharma Loka (Ang Bok Luan). Beliau memulai pengabdiannya sejak tahun 1975.

Pada awalnya, Beliau bersama Bhante Jinnadhammo Maha Thera mengunjungi daerah-daerah seperti Deli Tua, Pantai Cermin, Pancur Batu, Sibolga, Padang Sidempuan, Rantau Prapat, Bagan Siapi-api, Selapian, Tanjung Ledong untuk “memperkenalkan” dan mengembangkan Ajaran Buddha. Tak lama kemudian beliau menggabungkan diri dengan MBI TK-I yang pada saat itu berkedudukan di Vihara Borobudur. Beliau memimpin seksi Keviharaan.

Sebagai seorang pandita Lokapalasraya, Beliau mengatur jadwal kunjungannya ke daerah-daerah untuk memberikan khotbah dan mengajarkan pembacaan Sutra.

Kemudian sekitar Tahun 1996-2006 Beliau berkonsentrasi di Cetiya Khanti Paramitha di Sunggal (cetiya ini adalah rumah sederhana yang dipinjamkan umat) untuk melatih Liam Keng untuk kegiatan sehari-hari dan di upacara Avamangala. Semakin hari umat yang semakin banyak sehingga kapasitas cetiya tidak cukup lagi. Sejak itulah Beliau dan murid-muridnya bercita-cita mendirikan sebuah vihara di Sunggal yang sekarang di kenal dengan Vihara Dharma Aura.

Usaha inipun dimulai dengan mempersiapkan sebidang tanah dengan luas 440 m2. Tak lama Beliau jatuh sakit dan wafat pada 17 Februari 2009. Atas jasanya terhadap perkembangan Agama Buddha , pemerintah melalui Direktorat Jendral Hindu Buddha pada Juni 2005 telah memberikan penghargaan kepada Beliau. Tanggal 20 Agustus 2005 , MBI memberikan penghargaan kepada Beliau atas kesetiaan dan pengabdian yang diberikan selama lebih dari 20 tahun.

Atas dasar cita-cita mulia tersebut kini Vihara Dharma Aura lantai I telah berdiri dan dalam rencana pembangunan lantai II. Banyak kegiatan positif telah dilakukan di vihara ini antara lain :

  1. Pembacaan Sutra setiap hari Uposatha dan hari-hari besar Buddhis
  2. Kebaktian Pali setiap Minggu nya
  3. Sharing Dhamma setiap minggu
  4. Sekolah Minggu Buddhis setiap hari Minggu
  5. Perayaan-perayaan Buddhis seperti Waisak, Asalha dan Sangha Dana Kathina
  6. Pindacara atau Pindapatta Masa Vassa
  7. Bakti Sosial oleh Muda-mudi
  8. Fangsen dan lain-lain

Untuk kegiatan Sekolah Minggu Buddhis di Vihara Dharma Aura adalah Sekolah Minggu Buddhis resmi dengan izin dari Depag dengan nama Sekolah Minggu Buddhis Kalyana Mitta. Jumlah siswa juga terus bertambah kian hari.

INFO KATHINA DANA 2555 TB

Ketua Panitia Kathina 2011 : Hela, ST.

Wednesday, 19 October 2011

Vihara Dharma Wijaya

KATHINA NASIONAL



UNTUK PERTAMA KALINYA PERAYAAN KATHINA NASIONAL
AKAN DIHADIRI PULUHAN ANGGOTA SANGHA DARI KOTA MEDAN & TINGKAT NASIONAL

Bhikkhu Jinadhammo Mahathera
Bhikkhu Nyanasuryanadi Mahathera
Bhikkhu Ariyakusalo Mahathera
Bhikkhu Punna Jato
Bhikkhu Khemanando
Bhikkhu Thitapanno
Bhante Pannasami
Bhikkhu Thanavaro
Bhikkhu Bhadrajagara
Bhikkhu Kheminda

PERAYAAN KATHINA NASIONAL 2555BE/2011
MINGGU/ 30 OKTOBER 2011
Pukul 13.00 Wib S/D SELESAI
LT. V YANGLIM PLAZA - MEDAN

Merupakan Kesempatan baik tulus berdana di bulan yang penuh berkah berupa 4 (empat) kebutuhan pokok para Bhikkhu yaitu : jubah, makanan, obat-obatan dan tempat tinggal.

SEGERA PESAN SEKARANG PAKET DANA KATHINA sbb :
Paket Jubah Lengkap @Rp.1.000.000,-/set
Paket Jubah + Obat Obatan @Rp.600.000
Paket Obat - Obatan @Rp.300.000
Paket Kebutuhan sehari - hari & Makanan @Rp. 100.000
Paket Dana Partisipasi @Rp.50.000

PEMESANAN PAKET HUB.
Sdra. Panir 081376726345
Sdri. Yen Yen 061- 4555586
KANTOR MBI Jl. Bambu II, Komp.Graha Niaga Blok A No.2 Medan

DAPAT DISAMPAIKAN VIA TRANSFER
BCA A/C 8000737799 AN. MAJELIS BUDDHAYANA INDONESIA
Mohon cantumkan angka 11 pada bagian akhir nominal dana
Cth : Rp. 100.011
Setelah transfer segera Konfirmasikan via SMS ke 085277309621
Nama & Jumlah dana/Keterangan paket Kathina

KET. LOKASI PEMESANAN PAKET
RM. VEGETARIAN DI KOTA MEDAN
VIHARA BUDDHAYANA KOTA MEDAN

Sabbe Satta Bhavantu sukhitatta.... sadhu3x

Mettacittena,
Sangha Agung Indonesia (SAGIN)
MBI

Saturday, 15 October 2011

Dokumentasi Perayaan Kathina ITBC Medan

Perayaan Kathina pada hari Sabtu, 15 Oktober 2011 Medan.
di ITBC Medan.
Jl. Cemara Boulevard Utara No.I Komplek Cemara Asri -
Medan 20317 Sumut.

BATISALA UTAMA daya muat umat sekitar 800 orang.


tampak sisi kanan batisala utama (umat wanita)

tampak sisi kiri batisala utama (umat pria)



Batisala depan dengan daya muat 300 orang.


tampak sisi luar sebelah kanan batisala depan.

tampak sisi kiri luar batisala depan.

Batisala depan dengan altar di dalam menggunakan proyektor.


Penyerahan Jubah kepada Sangha segera dimulai.

ini mc nya~



Penyerahan jubah kepada Bhante oleh Panitia.


Buku Y.M Bhante Khemanando siap dibagikan kepada Umat secara gratis.

Antrian umat terlihat berjejer sepanjang Batisala untuk berdana kepada Anggota Sangha.

Antrian umat tampak di pintu depan masuk Batisala utama.


Umat berdana kepada Anggota Sangha.


Umat berdana kepada Anggota Sangha.


Turut hadir Rama Rudi Hardjon Dhammarajadasa.


Buku ketiga Y.M Bhante Khemanando "Terapi Hati Menurut Buddha Dhamma"


video sekilas moment perayaan Kathina ITBC.





Sumber : happydhamma

Wednesday, 12 October 2011

Perayaan HUT I Dharma -Cakra Buddhist Centre




Medan, (Analisa). Dharma-Cakra Buddhist Centre (DCBC) yang diresmikan pada 10 Oktober 2010 lalu, merayakan ulang tahun pertamanya, Minggu (9/10), di Jalan KL Yos Sudarso Lk XIV, Kompleks Cilincing Indah Medan.
Acara dimulai pada pukul 10.00 WIB diawali dengan kebaktian sakralisasi Dharmasala baru di lantai I DCBC yang dipimpin YM Bhikku Punnajato Thera bersama 7 Bhikku dan 5 Samanera Sangha Agung Indonesia dan diikuti ratusan umat Buddha yang memadati Dhamma-Sala dan pekarangan Dharma-Cakra Buddhist Centre. Kemudian disusul dengan pesan pesan Dhamma YM Bhikku Khemanando.

Selanjutnya acara pemotongan nasi tumpeng berbentuk Stupa dan kue tart oleh para Bhikku Sangha serta penyerahan piagam penghargaan kepada para donator oleh Romo Pandita Zulkifli S Ag (Ketua Yayasan Vihara Dharma-Cakra Buddha Medan).

Semakin maju

Sementara YM.Bhikku Pannasami di depan ratusan umat-Nya mengatakan, semoga Dharma-Cakra Buddhist Centre (DCBC) ini akan semakin maju dari tahun ke tahun berikutnya dan semakin bertambah umatnya sehingga semakin banyak orang yang dapat lebih memahami dan lebih mempraktikkan Cinta - Kasih dalam kehidupan sehari harinya sesuai dengan ajaran Sang Buddha.

Acara perayaan ini juga diramaikan dengan atraksi barongsai dan grup kesenian tuna netra dari Tanjung Morawa serta kegiatan donor darah bekerja sama dengan RS Colombia Asia.

Perayaan Ultah ini juga dihadiri anggota DPRD Sumut – Brilian Moktar, Presiden Rotary Club Deli Medan Kencana Salim (Bie Bie) beserta ratusan umat Buddha dan organisasi Buddhist lainnya.

Sementara itu drg Merry Susyana selaku Ketua Panitia Perayaan Ultah mengucapkan terima kasih kepada para sukarelawan, Pengurus DCBC, Muda Mudi DCBC yang telah meluangkan waktu dan tenaganya serta para donator yang telah menyumbang dalam kegiatan ini .(rel/nai)
sumber : analisadaily.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More