Dhamma itu Indah pada awalnya, Indah pada Tengahnya, dan Indah pada Akhirnya...

Monday, 13 February 2012

Tzu Chi Medan Bantu Korban Kebakaran Sukaramai


Medan, (Analisa). Tzu Chi Medan menjadi barisan terdepan dan tanggap darurat membantu korban kebakaran di Kelurahan Tegal Sari I Sukaramai Kecamatan Medan Area, di Jalan A.R. Hakim Lingkungan 12 Gang Bakung dan Gang Tanjung.Demikian siaran pers yang diterima Harian Analisa, Sabtu (11/2).
Saat musibah terjadi adalah tekad setiap insan Tzu Chi untuk membantu dan semoga sumbangsih Tzu Chi sangat membantu para korban agar tetap semangat menjalani hidup dan derap langkah ini menjadi inspirasi bagi semua untuk terus berlomba menapaki jalan kebaikan.

Salah seorang korban kebakaran, A Fuk mengatakan, Senin (6/2) saat peristiwa kebakaran kebetulan dirinya dan teman-temannya sedang di rumah yang juga sebagai kedai. "Tiba-tiba ada yang teriak-teriak kebakaran. Kami langsung keluar untuk membantu. Namun, api begitu cepat menjalar, jadi kami tak sempat selamatkan barang-barang kita," ungkapnya.

Setelah mendengar berita musibah tersebut, para insan Tzu Chi yang menjadi barisan terdepan, menuju lokasi kebakaran dan pertama kali memberikan bantuan berupa air mineral dan makanan yang dibagikan langsung kepada para korban dan petugas pemadam kebakaran.

Camat Medan Arean, Khoiruddin Rangkuti mengatakan, saat peristiwa kebakaran petugas langsung terjun ke lapangan untuk pemadaman api. Kemudian, dari beberpa pihak ada memberikan bantuan kepada para korban, salah satunya dari Yayasan Buddha Tzu Chi.

Relawan Tzu Chi, Shu Tjeng mengatakan sehari setelah musibah inipara korban terpaksa mengungsi di tenda-tenda darurat yang didirikan oleh beberapa organisasi kemanusiaan. "Untuk meringankan beban para korban, Yayasan Tzu Chi membagikan paket bantuan berupa santunan uang tunai, tikar, kasur, peralatan mandi, dan keperluan sembako kepada 135 KK. Meskipun dalam keadaan tertimpa musibah, para korban turut memberikan sumbangan di kotak amal Tzu Chi,"katanya yang menambahkan paket bantuan ini langsung diserahkan kepada para korban agar tepat sasaran. (rel)

Analisadaily.com

ITBC Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Gang Bakung



Medan, (Analisa). Pengurus Indonesia Theravada Buddhist Centre (ITBC) Cemara Asri menyalurkan sumbangan untuk korban kebakaran Gang Bakung dan Gg. Tanjung Sukarame, Selasa (7/2).
Bantuan tersebut merupakan sumbangan umat saat perayaan malam Cap Go Me yang bertepatan dengan Hari Magha Puja melalui Kepala Indonesia Theravada Buddhist Centre, Bhikkhu Khemanando.

"Bantuan sudah diserahkan 7 Februari 2012 pagi. Barang-barang terkumpul di halaman ITBC dan Team Dayaka Sabha ITBC yang diketuai oleh Edy Emas, Merry Eddy dan Alay Surya langsung bergerak cepat menyalurkan barang-barang kepada korban kebakaran bekerjasama dengan Yayasan Boddhicitta," kata Bhikkhu Khemanando dalam siaran persnya kepada Analisa, Kamis (9/2).

Bantuan yang disalurkan berupa beras 171 karung, mie instant, 67 kardus, gula, garam, sabun mandi, sabun blok, obat-obatan, pasta gigi, sandal, kopi, pakaian, sepatu, dua pick up minuman dan sumbangan uang.

Kepala Indonesia Theravada Buddhist Centre, Bhikkhu Khemanando, bersama Bhikkhu Aggacitto, Bhikkhu Ratanapanno, Samanera Dhirapunno dan Samanera Amarapanno bersama Team Dayaka Sabha ITBC meninjau lokasi kebakaran.

Di Lokasi, Kepala ITBC bertemu dengan DPD RI Bp. DR.H Rahmat Shah, Camat Setempat, Pemuda Pancasila, PSMTI, PMI, aparatur kelurahan setempat dan warga berunding untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan saling bersinergi.

"Kita akan kuat jika kita saling bahu-membahu, saling menolong, bertoleransi dan bersinergi antarindividu, kelompok, organisasi, agama dan sebagainya. Karena kita adalah saudara dan sama-sama orang Indonesia. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh," Kata Kepala Indonesia Theravada Buddhist Centre, Bhikkhu Khemanando.

Setelah meninjau lokasi, Ketua PMI Sumut Dr H Rahmat Shah mengajak Bhikkhu Khemanando meninjau Posko PMI Sumut dan menyerahkan secara langsung bantuan kepada korban kebakaran bersama-sama Camat, Pemuda Pancasila dan kelurahan setempat.

"Semoga dengan bersatunya warga yang pluralis ini dapat segera menyelesaikan permasalahan secara cepat. Kami dari Indonesia Theravada Buddhist Centre juga mengajak umat sekalian untuk menyisihkan sedikit dana sukarela untuk pembangunan korban kebakaran melalui ITBC PEDULI via Rek. ITBC d/a RohaniHemat atau Novie Tan dengan No.Rek: 2420764866 BCA dengan menambah Rp.100 dibelakang nilai atau langsung Ke ITBC – Cemara Asri telpon 061-91692269.

"Semoga kerjasama ini akan meningkatkan rasa Persatuan dan Kesatuan kita sebagai masyarakat Indonesia. Semoga Semua Makluk Turut Berbahagia," ucap Bikkhu Khemanando.(rel/nai)

Analisadaily.com

Malam Kesenian Imlek Mahakaruna Buddhist Center: Sambut Tahun Naga Penuh dengan Harapan


Medan, (Analisa). Pendiri Asosiasi Buddhist Center yang juga Pimpinan Mahakaruna Buddhist Center (MKBC), YM Bhiksu Prajnavira Chaokun Hui Siong mengajak umat Buddha untuk menyambut Tahun Baru Naga penuh dengan harapan.
"Saya berharap agar umat Buddha dalam perayaan hari besar etnis Tionghoa, memiliki keyakinan yang kuat, berbuat amal dengan tanpa pamrih serta memiliki prajna kebijaksanaan yang penuh dengan cinta kasih," tutur Suhu Hui Siong

"Kalau kita merenung kembali, pada tahun 2011 manusia hidup di bumi dengan penuh tantangan mara bahaya, global warming yang mengakibatkan bencana yang datang bertubi-tubi. Keyakinan yang masih tergoda oleh nafsu keinginan hanya berharap mendapatkan rejeki dari luar. Kalau dari hati kita yang murni mau memberi, pemberian inilah yang penuh dengan makna cinta kasih dan dilandasi keyakinan yang kuat," jelasnya.

Demikian Pesan Dharma Imlek yang disampaikan Suhu Hui Siong pada acara Malam Kesenian Perayaan Imlek 2556 BE di Auditorium MKBC, Cemara Abadi, Jumat (10/2).

Acara tersebut turut dihadiri Pembimas Buddha Kanwil kementerian Agama Sumut Ketut Supardi SAg Msi, Anggota DPRD Medan Hasyim, Bhiksu dan Bhante pimpinan vihara se-Sumut dan 3000 masyarakat umum dan Umat Buddha.

Tradisi Budaya

Pembimas Buddha, Ketut Supardi dalam sambutannya mengatakan, Imlek adalah tradisi budaya masyarakat Tionghua. Banyak umat Buddha melakukan wujud rasa syukur dengan berduyun-duyun ke Vihara untuk merayakan Tahun Baru Imlek.

Ia mengatakan, MKBC yang telah rampung pembangunan fisiknya, dapat difungsikan semaksimal untuk kepentingan masyarakat luas memahami Buddha Dharma.

Ia juga berpesan agar pengelola vihara, Bhiksu dan Bhiksuni dapat memanfaatkan vihara ini dengan program pengembangan seni budaya yang juga bagian dari pengembangan Agama Buddha.

Sementara itu, Suhu Hui Siong dalam sambutannya mengatakan, MKBC yang didirikan sejak tahun 2005 telah melakukan pembinaan terhadap generasi muda termasuk acara malam ini lebih banyak diisi generasi muda vihara.

Kedepan, MKBC akan berkembang menjadi Akademi Pendidikan Kebhiksuan dimana yang sekarang berada di Semarang akan dipindahkan ke MKBC.

Selain itu, Kompleks MKBC juga memiliki beberapa gedung sebagai tempat penampungan sementara para korban bencana, tempat pemberian konseling yang membantu para korban agar bisa mandiri dengan kehidupan yang lebih layak. Perkumpulan ini bekerja sama dengan UNESCO dan organisasi utusan presiden RI untuk penanggulangan kemiskinan.

"Sejak tahun 2011, MKBC ini telah memberi perhatian kepada 50 kepala keluarga yang ada di seluruh nusantara. Setiap minggunya, juga digelar pasar murah untuk masyarakat buddhis yang membutuhkan," ucapnya.

Acara Malam Kesenian Imlek di MKBC dimeriahkan oleh Tarian Tahun Baru Imlek Menyambut Musim Semi serta Tarian Bernuansa Nusantara dan Menyanyikan Lagu Indonesia Pusaka.

Kemudian dilanjutkan dengan Bhiksu Sangha memimpin doa untuk bangsa negara dan pemberian ucapan kata mudita Imlek dari tamu undangan organisasi masyarakat dan anggota DPRD untuk ribuan hadirin.

Malam kesenian juga turut dimeriahkan atraksi naga, penyanyi dari Jakarta dan Medan serta pemberian angpao oleh Dewa Rezeki. (jg)

Analisadaily.com

Wednesday, 8 February 2012

"JADI KAYA CARA BUDDHIS " Dhamma Talk bersama Bhikkhu Kheminda



DAPATKAN SEGERA UNDANGAN Dhamma Talk
"JADI KAYA CARA BUDDHIS "

Bersama : Bhikkhu Kheminda BA.,MA.
Sang Pelopor Kelas Abhidhamma Made Easy (AME)
Hari Sabtu, 11 Februari 2012
Pukul 18.30 – selesai
di Selecta Grand Ballroom LT.5 Jl. Listrik No. 2 Medan
Diselenggarakan oleh MBI & BBCID

INFORMASI UNDANGAN & SPONSORSHIP
BUDDHAYANA CENTRE 061-4555586
BODHI BUDDHIS CENTRE INDONESIA 061-4148334
Finny 061-77270124/085261665053
Fanny 061-77863029/085261763355
Freddy 085277766610

SANG PEMBELAJAR
Ashin Kheminda, Sang Pembelajar, akan hadir di Medan menjadi pembicara dalam Dhamma talk ‘Jadi Kaya Cara Buddhis’. Kata Ashin berasal dari bahasa Myanmar yang berarti Bhante. Ashin Kheminda dilahirkan di Semarang dan di-upasampada di Mahasi Sasana Yelktha Meditation Centre of Yangon, Myanmar tahun 2004.

Ashin Kheminda merupakan salah satu anggota Sangha Agung Indonesia (SAGIN) yang menerima medali emas (lulusan terbaik) dari The International Theravada Buddhist Missionary University of Yangon, Myanmar pada 2008.

Selama mendalami ajaran Buddha, Ashin Kheminda juga mengajar Abhidhamma kepada teman-temannya belajar di Myanmar, para Biksu dan Biksuni dari luar negeri.

Mulai Juli 2008 sampai dengan Desember 2010, dia menjadi pengajar Abhidamma dan pembimbing meditasi di Singapura yang mendapatkan sambutan yang sangat baik dari begitu banyak murid.

Ashin Kheminda juga mendirikan PJBS (Prasadha Jinarakkhita Buddhist Study) yakni sekolah minggu Buddhist yang terstruktur, menggunakan kurikulum dari Taiwan, Srilangka dan Singapura. Beliau merupakan lulusan S2 di The Graduate School of Buddhist Studies, Singapura.

Kini sebagai anggota Sangha Agung Indonesia, Ashin Kheminda berkeliling di berbagai kota di Indonesia untuk mempopulerkan Abhidhamma. Dengan kelas Abhidhamma Made Easy-nya, (AME) ia berhasil mengubah citra Abhidhamma menjadi satu ajaran yang mudah dan bisa dinikmati; hal ini terbukti dari kelas-kelasnya yang senantiasa penuh oleh peserta dari Nasional maupun dari daerah.

Ketua panitia Finny Owen dalam siaran persnya menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan oleh Majelis Buddhayana Indonesia Sumatera Utara bekerjasama dengan Bodhi Buddhis Centre Indonesia (BBCID ) sehingga seluruh umat di Kota Medan dan sekitarnya dapat berkesempatan mengikuti Dhamma talk ‘Jadi Kaya Cara Buddhis’ yang merupakan serangkaian Dhamma Tour yang telah diselenggarakan di beberapa kota besar di Indonesia.

Dhamma talk ini akan diselenggarakan pada 11 Februari 2012 bertempat di Selecta Ballroom lt.5 Medan. Undangan kegiatan ini dapat diperoleh langsung di sekretariat Buddhayana Centre Jl. Bambu II Komplek Graha Niaga Blok A No.2 Medan. (ht)

JADILAH TEMAN YANG BAIK


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Dalam menjalani suatu pergaulan di masyarakat, hendaknya kita harus selalu berhati-hati, karena sering kali orang-orang salah dalam pergaulan. Kita selalu dituntut untuk mencari teman-teman yang bijaksana dan menghindari teman-teman yang tak bijaksana. Teman yang bijaksana akan menuntun kita pada hal-hal yang baik dan berguna, yang akan membuat kita bahagia, baik dalam kehidupan sekrang ini maupun dalam kelahiran kita yang akan datang. Teman-teman yang dungu akan membuat kita terjerumus pada hal-hal yang buruk dan berbahaya, yang akan membuat kita menderita, bukan saja dalam kehidupan sekarang ini bahkan pada kelahiran kita yang akan datang. Marilah kita mengenali sahabat-sahabat kita, mengapa kita harus menghindari pergaulan dengan orang-orang yang tidak bijaksana? Mengapa kita harus bergaul dengan para bijaksana? Untuk mengetahui jawabannya, simaklah uraian berikut ini.

Tak bergaul dengan orang yang tak bijaksana.

Tak bergaul dengan orang-orang dungu dikatakan suatu berkah utama, mengapa dikatakan demikian? Karena dengan tidak bergaul, berteman, bersahabat dengan orang-orang yang dungu kita akan terhindar dari melakukan hal-hal yang buruk. Orang yang dungu segala perbuatannya cenderung ke arah yang tidak baik/buruk. Ia menganggap perbuatan yang buruk sebagai perbuatan yang berguna, maka hal ini yang ia lakukan, tetapi ia menganggap perbuatan baik sebagai perbuatan yang tidak bermanfaat, maka ia tidak pernah melakukan.

Pelanggaran sila/kemoralan seperti membunuh, mencuri, asusila, berbohong, mabuk-mabukan, ia anggap sebagai sesuatu yang baik dan berguna yang tidak akan mengakibatkan penderitaan, maka ia melakukan hal-hal ini. Sementara pergi ke vihara, mendengarkan ceramah, berdana, menjalankan sila, bermeditasi adalah sesuatu yang menjenuhkan, sesuatu perbuatan yang membosankan, sesuatu perbuatan yang tidak bermanfaat, sehingga ia tidak pernah melakukan hal-hal ini. Inilah yang dilakukan oleh orang yang dungu.

Bergaul dengan orang dungu akan menyebabkan kita ikut menjadi dungu. Salah satu contoh, jika kita sering bergaul dengan orang-orang yang suka melakukan pelanggaran sila ke-5 yaitu mabuk-mabukan atau mengkonsumsi obat-obatan terlarang (narkoba), maka kita pun akan ikut menjadi seorang pemabuk, ikut mengkonsumsi obat-obatan tersebut. Inilah bahayanya, kita akan terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif. Walaupun kita berteman dengan mereka dan kita tidak ikut-ikutan mengkonsumsi narkoba, tetapi apabila kita sering bergaul dengan orang-orang seperti ini, maka nama baik kita akan tercemar, nama baik kita akan jelek seperti perumpamaan sebagai berikut : Bagaikan daun pisang yang digunakan untuk membungkus daging atau ikan yang berbau busuk, walaupun daging atau ikannya sudah dibuang tetapi daunnya akan tetap tercium bau busuk. Jika kita sudah tahu dan sudah mengerti bahwa minum-minuman keras, narkoba dan sejenisnya itu tidak baik akan merusak kesehatan bahkan kehidupan kita, namun kita masih tetap melakukan hal ini adalah suatu kebodohan. Kita dapat mengetahui seberapa besar kebodohan-kebodohan yang kita lakukan, dengan cara mengetahui seberapa banyak kita melakukan pengulangan-pengulangan perbuatan yang bodoh tersebut.

Dalam Dhammapada ayat 63, Sang Buddha mengatakan :
"Orang bodoh yang menyadari kebodohannya sendiri, sesungguhnya adalah orang yang bijaksana sedangkan orang bodoh yang sombong dan menganggap dirinya bijaksana, adalah orang yang sungguh-sungguh bodoh."

Tentunya yang dimaksud dalam Dhammapada ini adalah orang yang bodoh karena melakukan tindakannya yang bodoh kemudian ia menyadari bahwa tindakannya itu adalah bodoh dan ia tidak akan mengulangi lagi kebodohannya itu. Ini dikatakan orang bodoh yang telah menjadi bijaksana. Bijaksana karena telah menyadari tindakan kebodohannya dan tidak akan mengulangi tindakannya yang bodoh untuk kedua kalinya. Tetapi orang bodoh yang terus menerus melakukan kebodohannya dan tidak menyadari bahwa tindakannya itu adalah sesuatu yang bodoh bahkan ia bangga dengan tindakannya itu, inilah sesungguhnya orang yang benar-benar bodoh.

Bergaullah dengan orang bijaksana.

Bergaul dengan para bijaksana adalah berkah utama. Dikatakan demikian karena bergaul dengan bijaksana banyak membawa keuntungan, banyak membawa manfaat. Bijaksana adalah orang yang mengerti kebaikan sebagai suatu kebaikan dan kejahatan sebagai suatu kejahatan. Perbuatannya cenderung ke arah yang baik, karena bijaksana bisa membedakan mana perbuatan baik yang harus dilakukan dan mana perbuatan buruk yang harus ditinggalkan. Bijaksana mengerti bahwa melakukan kebaikan akan berakibat kebahagiaan dan melakukan kejahatan akan membuahkan penderitaan.

Berteman atau bergaul dengan para bijaksana diibaratkan seperti: Daun pisang yang digunakan untuk membungkus bunga-bunga atau kayu cendana yang wangi, meskipun bunganya atau kayu cendananya telah dibuang, tetapi daun pisangnya akan tercium bau yang wangi. Begitu juga bila kita berteman atau bergaul dengan orang yang bijaksana, maka tindakan dan perbuatan kita akan ikut terpengaruh menjadi bijaksana, seperti yang dilakukan oleh orang yang bijaksana. Kita akan mencontoh hal-hal yang baik, nama kita pun akan ikut menjadi baik karena bergaul dengan orang yang baik.

Bagaimana ciri-ciri dari orang bijaksana itu? Ada beberapa ciri, yaitu: memiliki saddhà atau keyakinan, memiliki hiri atau rasa malu untuk berbuat jahat, memiliki ottappa atau takut akan akibat dari perbuatan jahat, memiliki bahussuta atau banyak pengetahuan Dhamma, memiliki viriya atau semangat, memiliki pannà atau kebijaksanaan.

Dalam Sigalovada Sutta, dijelaskan tentang empat macam sahabat yang baik, yaitu:
  1. Sahabat penolong
  2. Sahabat di waktu senang dan susah.
  3. Sahabat yang memberi nasehat baik.
  4. Sahabat yang bersimpati.
KESIMPULAN

Inilah sahabat-sahabat baik yang bisa menjadi obat di kala kita menderita dan membutuhkan pertolongan. Sahabat yang berguna untuk kemajuan batin kita. Bila kita memiliki sahabat-sahabat baik seperti ini tentunya kita akan bahagia. Marilah kita mencari sahabat yang bisa dijadikan obat. Kalau kita tidka bisa menemukannya, marilah kita bentuk diri kita menjadi sahabat yang bisa sebagai obat. Maka, diri kita akan berguna bagi banyak orang.


"SEORANG EDISON PERNAH GAGAL 10.000 KALI SEBELUM IA MENCIPTAKAN LAMPU LISTRIK. DON'T GIVE UP.... JANGAN MENYERAH.... JANGAN PATAH SEMANGAT WALAUPUN BERKALI-KALI GAGAL..... KHANTI PARAMAM TAPO TITIKHA.." (Bhikkhu Khemanado)

sumber : buku Fenomena Buddha Dhamma

Thursday, 2 February 2012

BERETIKA MENURUT BUDDHA DHAMMA




Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa.

BERETIKA MENURUT BUDDHA DHAMMA

Garavo ca nivato ca, Santuthi ca katannuta,
Kalena Dhammasavanam Etammangalamuttamam
Menjauhi, tak melakukan kejahatan, menghindari minum-minuman keras,
Tekun melaksanakan Dhamma, Itulah Berkah Utama.

Dengan melalui etika ini kita bisa menentukan apa yang baik dan kemudian melaksanakannya, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam bermasyarakat. Tetapi, bagaimana kita bisa mengetahui yang mana perilaku yang baik dan yang mana yang buruk? Untuk ajaran-ajaran tertentu, dengan dalil atau dasar pendekatan terhadap legislatif (perancangan hukum) pada etika, pertanyaan di atas mudah dijawab, apa yang disabdakan Mr. X sebagai baik, haruslah dikerjakan atau perlu dijalankan, dan apa yang Mr. X sabdakan sebagai buruk, haruslah dihindari. Untuk menjadi baik, seseorang harus melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Mr. X. Jadi pengabaian perintah-perintah itu akan menyebabkan suatu pembalasan yang sangat berat, jauh melebihi perbuatan yang diperbuatnya- yang akan membawa seseorang itu ketakdir penguasa alam semesta yang mungkin akan dijebloskannya ke alam Neraka untuk selamanya.
Kekurangan yang sangat jelas dalam cara pendekatan moral di atas adalah bahwa kepatuhan lebih diutamakan daripada pengertian, ketidakpatuhan akan menyebabkan ketakutan yang sangat mendalam dalam hidup seseorang.

Suatu perbuatan yang menghasilkan penyesalan, dan mengakibatkan ratapan tangis dan air mata adalah perbuatan yang tidak baik (akusalakamma), tetapi jika suatu perbuatan yang tidak mengakibatkan penyesalan dan menyebabkan kegemberiaan dan kebahagiaan, maka itu adalah suatu perbuatan yang baik (kusalakamma).

Akhir-akhir ini banyak kontroversi ditengah-tengah masyarakat kita dengan beredarnya majalah Playboy versi Indonesia, ini merupakan klimaks bagi kita semua. Memang sejak awal penerbitan teltah menimbulkan kontroversi dikalangan orang-orang yang menolak terbitnya majalah tersebut. Karena dianggap sebagai Pornografi atau pornoaksi. Tetapi bagi mereka yang merasa senang dengan terbitnya majalah itu seolah-olah telah memberi angin segar bagi mereka. Memang sungguh memprihatinkan kondisi-kondisi seperti ini terus muncul di tengah-tengah masyarakat kita, yang baru marak-maraknya berdemonstrasi. Jika hal ini tidak bisa diatasi dalam waktu sedini mungkin, mau jadi apa masyarakat kita? Apakah hal-hal seperti ini akan dipertahankan selamanya? Apakah memang moral bangsa kita semakin menurun persentasenya atau malah bertambah? Banyak orang menilai majalah itu memang menampilkan perempuan-perempuan yang berpose bugil dan hal itulah yang dianggap sebagai pornografi. Karena pengertian porno disini mempunyai sebuah multidefinisi dan penafsiran bagi orang-orang tertentu. Sehingga suasana seperti ini bisa menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat kita sendiri. Jadi sebagai seorang buddhis yang mengetahui hasil atau akibat dari segala sesuatu, maka kita tidak usah gembar-gembor kesana kemari tetapi dengan penyelidikan yang hati-hati dan sebuah pertimbangan fakta-fakta yang sangat relevan dan logistik. Supaya kita dapat menentukan tindakan kita sendiri. Tidak seorangpun yang secara sadar menyakiti dirinya sendiri, jadi apabila suatu tindakan kita menyebabkan rasa sakit, ketegangan dan penderitaan, pastilah itu sesuatu yang tidak semestinya.

Bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari, kita pada umumnya berkehendak dulu sebelum melakukan suatu tindakan; oleh karenanya, dengan berdasarkan Azas moral yang sesuai dengan Ajaran, kita hendaknya memasukan kehendak-kehendak yang baik terlebih dahulu pada setiap rencana tindakan kita sebelum melaksanakannya. Apabila suatu tindakan memperkuat kecenderungan-kecenderungan yang menjauhkan diri kita dari jalan Nibbana, menyebabkan diri kita dan orang lain menderita, dan juga termasuk suatu tindakan yang didasari oleh kehendak negatif seperti Kebencian, Keserakahan, Kesombongan dan sebagainya; itulah yang disebut tidak baik atau salah. Tetapi sebaliknya jika suatu tindakan memperkuat kecenderungan-kecenderungan yang mendekatkan diri kearah Nibbana, tidak menyebabkkan penderitaan bagi diri kita sendiri dan orang lain, dan juga termasuk suatu tindakan yang didasari dengan kehendak yang positif seperti Cinta Kasih, Kemurahan Hati, dan sebagainya, itulah yang disebut sebagai yang baik dan benar. Berdasar hanya salah satu dari azas diatas saja tidaklah cukup untuk menilai apakah suatu tindakan baik atau buruk, tapi ketiganya merupakan suatu kesatuan atau kemanunggalan yang tepat untuk dijadikan sebuah petunjuk untuk berpikir, berbicara dan bertindak. Menjadi baik dalam pandangan buddhisme tidak sekadar mematuhi suatu perintah-perintah; tapi juga perlu bahwa kita memikirkan tujuan atau sasaran kita, bahwa kita bermawas diri dalam berpikir, berbicara dan bertindak dalam agar supaya kita menjadi peka dalam hubungan diantara sesama.

Secara singkat diperlukan akal budi dan pengertian. Dengan demikian adalah sangat tepat bila dikatakan bahwa Buddha Dhamma meletakkan dasar pada moralitas. Dalam membicarakan kebajikan, adalah penting ditekankan bahwa Buddha Dhamma meletakkan dasar pada Moralitas. Dalam membicarakan kebajikan, adalah penting ditekankan bahwa Buddha Dhamma mengajarkan keunggulan dari Kebajikan daripada Kejahatan. Beberapa ajaran lain mengajarkan secara alami setiap orang pada dasarnya berdosa, dan bahwa manusia dengan kekuatan sendiri tidak akan mampu menjadi baik, dan bahwa hanya dapat ditolong dengan memohon belas kasih dari Makhluk Adikodrati tertentu. Pemahaman Buddha tentang ciri alami manusia sangat berbeda dari pandangan pesimis dari Ajaran-ajaran lain. Kebaikan atau kebajikan adalah lebih kuat daripada kejahatan. Di dalam kitab Milinda Panha Bhante Nagasena sempat berdebat tentang masalah ini dengan Raja Milinda, demikian: Ketika itu Sang Raja (Milinda) bertanya : " Y.M Nagasena, yang mana lebih kuat, kebajikan atau kejahatan". Y.M Nagasena menjawab : "Kebajikan adalah lebih besar, Tuanku. Dan kejahatan adalah suatu yang sangat kecil."

"Kenapa demikian?"

"O' Raja, orang yang berbuat kejahatan mungkin akan dengan menyesal dan berkata: "perbuatan jahat telah saya lakukan; oleh karenanya kejahatan tidaklah bertambah. Tetapi orang berbuat kebajikan tidaklah pernah menyesal. Karena bebas dari penyesalan, timbul rasa senang, dari perasaan senang timbul kegembiraan, dari kegembiraan timbul ketenangan, dari ketenangan timbul kebahagiaan, dan dalam batin yang berbahagia seseorang bisa memusatkan pikirannya. Seseorang yang bisa memusatkan pikirannya dapat melihat seperti apa adanya, dan dengan demikian kebajikan akan semakin bertambah."

Dalam salah satu percakapannya Buddha menganjurkan agar kita berbuat kebajikan dan kebaikan sebanyak-banyaknya dalam hidup kita, seperti yang dilakukan Beliau. Menghindari perbuatan salah dan dilakukan. Apabila itu tidak dapat dilakukan, saya tidak akan menganjurkan engkau untuk melakukannya. Tapi karena itu bisa dilakukan, saya berkata kepadamu: "Hindarilah perbuatan salah." Bila dengan menghindari kesalahan akan membawa kehilangan dan kesesalan, Saya tidak akan menganjurkan untuk melakukannya. Tapi karena itu membawa keberuntungan dan kebahagiaan, saya menganjurkan engkau : "Hindarilah perbuatan salah."

Mengembangkan kebajikan, dapat dilakukan. Apabila itu tidak dapat dilakukan, Saya tidak akan menganjurkan engkau untuk melakukannya. Tapi karena itu dapat dilakukan, Saya berkata kepadamu : "Kembangkanlah Kebajikan. " Bila dengan mengembangkan kebajikan akan membawa kehilangan dan kesesalan, maka Saya tidak akan menganjurkan engkau untuk melakukannya tapi karena itu dapat membawa keberuntungan dan kebahagiaan, maka Saya menganjurkan engkau : "Kembangkanlah Kebajikan."

Kesimpulan
Dengan memahami etika secara baik maka seseorang akan mengerti apa yang seharusnya mereka lakukan dan apa yang tidak harus dilakukan. Jika sesuatu itu membawa ketenangan dan kebahagiaan maka penyaji anjurkan untuk melakukannya dan terus mengembangkannya tetapi jika sebaliknya, sesuatu itu membawa penderitaan maka penyaji menganjurkan jangan lakukan.



"TAK SEORANG PUN DOKTER DI DUNIA INI YANG BISA MENYUNTIK SUPAYA HATI KITA BISA TENANG, BAHAGIA DAN PENUH KEDAMAIAN, DAN TAK SEORANGPUN DI DUNIA INI YANG MENJUAL KEDAMAIAN HATI. TETAPI SEMUA ITU MUNCUL DARI DIRI SENDIRI MELALUI PIKIRAN YANG TERKENDALI" (Bhante Khemanando)

Fangshen bersama hari MAGHAPUJA - DCBC



Namo Buddhaya,

Hadirilah Fangshen bersama hari MAGHAPUJA dan Imlek 2563

Tempat : Dharma-Cakra Buddhist Centre (Jl. Yos Sudarso Lr. 14 B Kompleks Cilincing Indah Glugur Medan)
Hari : Minggu, 5 Februari 2012
Waktu : Jam 17:30 WIB

Dianjurkan melepas ikan kecil, kodok, jangkrik, kadal, udang

Info lebih lanjut bisa menghubungi Ketua Kerohanian PMDCBC : ERICA YIN.

INFO KEBAKTIAN di Vihara ITBC Medan



Namo Buddhaya…

Happy Moment, Happy in Dhamma.

Saudara - saudari seDhamma yang berbahagia, Hadirilah kebaktian Umum di Indonesia Theravada Buddhist Centre (ITBC) :

Pada Hari : Minggu

Tanggal : 05 Februari 2012

Pukul : 10.00 WIB

Topik Dhamma : “Share Your Compassion!! Why?”

Narasumber : Y.M. Bhikkhu Khemanando

Mendengarkan Dhamma, merupakan hal penting yang dapat kita ikuti saat mengikuti puja bakti di vihara. Sang Buddha, dalam khotbah-Nya tentang Berkah Utama (Mangala Sutta) menyatakan "Kalena Dhammasavanam, Etammangalamuttamam" yang artinya mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai adalah Berkah Utama .

Dhamma is the way of our life………..

Abhidhamma Class (2-Bab AKhir) & Visudhi Magga

klik pada gambar untuk melihat gambar ini lebih jelas.

Namo Buddhaya,
Tidak terasa Abhidhamm Class lanjutan bersama Prof. Mehm Tin Mon pada
tanggal 20 Oktober-02 Nopember 2011 telah berlalu selama 3 bulan.

Kabar Gembiranya adalah Abhidhamma Class (2bab terakhir) dan Visudhi Magga akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini , yakni pada tanggal 27 Februari 2012 - 11 Maret 2012. bertempat di ITBC - Indonesia Teravada Buddhist Centre.
Dengan Jadwal :
Senin-Jumat : 19.00- 21.30
Sabtu : 16.00 - 18.00 break 19.00- 21.30
Minggu : 14.00-16.00 break 16.15-18.15 break 19.00-21.30

Untuk Informasi dan Pendaftaran :
Hubungi Michael di No. Hp. 082163500044
dan Ardytia Lesmana di No. Hp. 087868501850


Terbatas untuk 200 Peserta
Tidak dikenakan biaya

Organize by : ITBC - Indonesia Teravada Buddhist Centre,

Saturday, 7 January 2012

Buddhisme, Satu-Satunya Sains Yang Sejati


Buddhisme, Satu-Satunya Sains Yang Sejati
Ven. Ajahn Brahmavamso Mahathera


Perth, Australia -- Saya dulunya seorang ilmuwan. Saya belajar Ilmu Fisika Teoritis di Universitas Cambridge, berada di dalam gedung yang sama dengan seseorang yang kemudian dikenal sebagai Profesor Stephen Hawking. Saya menjadi kecewa dengan sains ketika sebagai orang-dalam, saya melihat betapa menjadi dogmatisnya seorang ilmuwan.

Dogma, menurut kamus, merupakan pernyataan arogan dari sebuah opini.

Ini merupakan suatu uraian yang sesuai dari sains yang saya saksikan di laboratorium Cambridge. Sains telah kehilangan rasa malunya. Opini yang bersifat egoistis mengalahkan pencarian Kebenaran yang berimbang. Aforisme (peribahasa) favorit saya pada waktu itu adalah: "Keunggulan seorang ilmuwan besar diukur oleh banyaknya waktu yang mereka gunakan untuk MERINTANGI KEMAJUAN di dalam bidang mereka!"

Untuk memahami sains yang sebenarnya, seseorang bisa kembali kepada salah satu bapak pendirinya, seorang filosof Inggris, yaitu Francis Bacon (1561:1628). Ia menyelesaikan kerangka kerja yang dengannya sains mengalami kemajuan, yaitu "kekuatan besar dari kasus-kasus penolakan"

Ini berarti bahwa, dalam mengajukan sebuah teori untuk menjelaskan beberapa fenomena alam, maka seseorang harus mencoba sebaik mungkin untuk bisa membuktikan kebalikan dari teori itu! Seseorang seharusnya menguji teorinya dengan eksperimen yang menantang. Seseorang harus mengujinya dengan argumen yang ketat.

Hanya ketika suatu kelemahan muncul pada teori, maka sains itu mengalami kemajuan. Sebuah penemuan baru telah memungkinkan sebuah teori untuk dapat disesuaikan dan diperbaiki. Metodologi sains yang fundamendal dan murni ini memahami bahwa tidaklah mungkin untuk membuktikan semuanya dengan kepastian yang mutlak. Seseorang hanya bisa menyangkal (membuktikan kebalikan) dengan kepastian yang mutlak.

Sebagai contoh, bagaimana seseorang dapat membuktikan hukum dasar gravitasi yang mengatakan "apa yang naik akan turun dengan segera?" Seseorang bisa melempar ke atas beberapa objek sebanyak sejuta kali dan melihat objek-objek tersebut jatuh sebanyak sejuta kali. Tetapi tetap tidak membuktikan "apa yang naik akan turun".

Bagi NASA, mungkin setelah "melempar" roket Saturnus ke atas, ke ruang angkasa untuk menjelajahi planet Mars, maka roket itu tidak pernah turun ke bumi lagi. Sebuah kasus negatif cukup untuk menyangkal (membuktikan kebalikan) dari teori dengan kepastian mulak.

Beberapa ilmuwan yang salah arah mempertahankan teori bahwa tidak ada kelahiran kembali, mengatakan bahwa arus kesadaran ini tidak dapat kembali kepada keberadaan manusia secara berlanjut. Menurut sains, seseorang perlu menyangkal (membuktikan kebalikan) teori ini, yaitu dengan menemukan satu kasus kelahiran kembali, hanya satu kasus!
Seperti beberapa dari Anda sudah mengetahuinya, Professor Ian Stevenson, telah mendemonstrasikan banyak kasus kelahiran kembali. Teori tidak ada kelahiran kembali telah dapat disangkal. Kelahiran kembali sekarang adalah sebuah fakta ilmiah!

Sains modern memberikan prioritas yang rendah bagi usaha apapun untuk menyangkal (membuktikan kebalikan) teori yang ia pelihara. Ada terlalu banyak kepentingan kekuasaan, gengsi dan dana penelitian. Komitmen yang berani untuk kebenaran akan membuat terlalu banyak ilmuwan keluar dari zona kenyamanan mereka.

Para ilmuwan, sebagian besar, telah dicuci otaknya oleh pendidikan mereka dan dalam kelompok mereka untuk melihat dunia dengan cara yang sangat sempit, sangat kecil sekali. Ilmuwan yang paling parah adalah mereka yang berkelakuan seperti evangelis eksentrik (* lihat catatan dibagian paling bawah), mengklaim bahwa hanya mereka sajalah yang memiliki seluruh kebenaran, dan kemudian merasa berhak untuk memaksakan pandangan-pandangan mereka kepada orang lain.

Orang awam mengetahui begitu sedikit mengenai sains, bahkan mereka sukar untuk memahami bahasa yang digunakan sains.

Kemudian, jika mereka membaca di surat kabar atau majalah "seorang ilmuwan mengatakan demikian?", maka mereka langsung secara otomatis menerima hal itu sebagai kebenaran. Bandingkan hal ini dengan reaksi kita ketika kita membaca dalam jurnal yang sama "seorang politikus mengatakan demikian?" Mengapa para ilmuwan memiliki kredibilitas yang tidak tertandingi seperti itu?

Mungkin ini disebabkan oleh bahasa dan ritual sains menjadi begitu jauh beralih kepada orang awam, dimana para ilmuwan kini menjadi dipuja-puja dan menjadi keimamaman yang mistis.

Berpakaian dengan pakaian upacara berupa jas laboratorium putih mereka, melafalkan bahasa yang tidak dapat dimengerti mengenai fraktal multi dimensi alam semesta yang paralel, dan mempertunjukkan upacara gaib yang mengubah logam dan plastik menjadi TV dan komputer, pada masa modern ini para ahli kimia begitu hebatnya sehingga kita akan percaya apapun yang mereka katakan. Ke-elitan sains menjadi sesuatu yang mutlak seperti halnya seorang Paus.

Beberapa orang mengetahui lebih baik. Banyak dari apa yang telah saya pelajari 30 tahun yang lalu sekarang telah terbukti salah. Sayangnya, banyak para ilmuwan dengan integritas dan rasa malu, yang menegaskan apa itu sains sesungguhnya, pekerjaannya masih dalam pengembangan.

Mereka mengetahui bahwa sains hanya dapat mengusulkan sebuah kebenaran, tetapi tidak akan pernah mencapai sebuah kebenaran. Saya pernah diceritakan oleh seorang praktisi Buddhis, dimana pada hari pertamanya di sekolah medis di Sydney, seorang Profesor terkemuka, kepala dari Sekolah Medis tersebut, memulai pidato penyambutannya dengan menyatakan "Setengah dari apa yang akan kami ajarkan kepada kalian pada beberapa tahun ke depan adalah salah. Permasalahannya adalah kami tidak tahu apa yang setengahnya lagi!" Itulah perkataan dari seorang ilmuwan sejati.

Beberapa ilmuwan evangelis akan melakukan sebaik mungkin untuk mengungkapkan perkataan kuno (yang sudah digubah) "Ilmuwan datang saat para malaikat takut untuk melangkah" dan mereka berhenti untuk membahas mengenai sifat alami pikiran, kebahagiaan, apalagi Nibbana. Khususnya para ahli neurology (ahli urat saraf) cenderung mengalami neurosis. (Neurosis : suatu ketundukan yang di luar batas terhadap pikiran-pikiran atau benda-benda yang tidak realistis) (* lihat catatan di bagian bawah)

Mereka mengklaim bahwa pikiran, kesadaran dan kehendak, pada saat ini cukup dijelaskan melalui aktivitas di dalam otak. Teori ini telah disangkal lebih dari 20 tahun yang lalu oleh penemuan Prof. Lorber mengenai seorang pelajar di Universitas Sheffield yang memiliki IQ 126, lulusan terbaik dalam bidang matematika, tetapi ia tidak memiliki otak secara virtual (Science, Vol. 210, 12 Dec 1980)!

Yang terbaru, hal tersebut telah disangkal oleh Prof. Pim Van Lommel, yang mempertunjukkan keberadaan aktivitas kesadaran setelah kematian secara klinik, yaitu ketika seluruh aktivitas otak telah berhenti (Lancet, Vol. 358, 15 Desember 2001, p 2039).

Meskipun mungkin ada banyak hubungan antara sebuah aktivitas terukur di bagian otak dan kesan mental, beberapa peristiwa atau fakta yang ada secara berdampingan tidak selalu menyiratkan bahwa yang satu adalah penyebab dari yang lain. Sebagai contoh, beberapa tahun yang lalu, sebuah penelitian memperlihatkan sebuah hubungan yang jelas antara perokok dan tidak terjadinya gejala penyakit Alzheimer.

Bukanlah karena merokok yang menyebabkan kekebalan terhadap penyakit Alzheimer, seperti yang diharapkan oleh perusahaan tembakau, ini hanyalah karena para perokok tidak memiliki hidup yang cukup panjang untuk mendapatkan penyakit Alzheimer!

Contoh di atas merupakan peristiwa yang bersamaan dari dua fenomena, bahkan ketika terulang kembali, bukanlah berarti salah satu fenomena tersebut merupakan penyebab dari fenomena yang lainnya. Mengklaim bahwa aktivitas di dalam otak menyebabkan suatu kesadaran, atau pikiran, jelaslah bukan merupakan hal yang bersifat ilmiah.

Buddhisme lebih bersifat ilmiah dibanding dengan sains modern. Seperti halnya sains, Buddhisme berdasarkan pada hubungan sebab-akibat yang dapat dibuktikan. Tetapi tidak seperti sains, Buddhisme menghadapi setiap kepercayaan dengan saksama.

Kalama Sutta yang terkenal dalam Buddhisme menyatakan bahwa seseorang tidak bisa mempercayai secara penuh pada "apa yang seseorang ajarkan, pada tradisi, kabar burung, kitab suci, logika, kesimpulan, penampilan, kesepakatan berdasarkan pada opini, berdasarkan kesan atas kemampuan sang guru, atau bahkan pada guru pribadi seseorang".

Berapa banyak ilmuwan yang tegas dalam pemikiran mereka seperti ini? Buddhisme menghadapi segalanya, termasuk logika.

Perlu dicatat adalah bahwa Teori Kuantum muncul sebagai sesuatu yang tidak logis, bahkan bagi seorang ilmuwan besar seperti Einstein, ketika teori tersebut diajukan untuk pertama kalinya. Teori tersebut belum disangkal. Logika hanya dapat dipercaya sebagai anggapan-anggapan sebagai dasarnya. Buddhisme hanya mempercayai pengalaman yang jelas/jernih dan objektif.

Pengalaman yang jelas atau jernih terjadi ketika alat ukur seseorang berupa pikiran sehatnya, cermelang dan tidak terganggu. Dalam Buddhisme, hal ini terjadi ketika rintangan berupa kelambanan dan kemalasan serta keresahan dan penyesalan, seluruhnya dapat diatasi. Pengalaman yang objektif merupakan pengalaman yang bebas dari segala penyimpangan (bias).

Dalam Buddhisme, tiga jenis penyimpangan (bias) adalah, napsu keinginan, kehendak buruk dan keragu-raguan yang bersifat tidak pasti. Napsu keinginan membuat seseorang hanya melihat apa yang ingin ia lihat, napsu keinginan membelokkan kebenaran sehingga sesuai dengan apa yang disukai oleh seseorang. Kehendak buruk membuat seseorang buta pada apapun juga yang mengganggu atau yang membingungkan pandangan seseorang dan ia mengubah kebenaran dengan penyangkalan.

Keraguan yang tak pasti dengan keras kepala menolak segala kebenaran tersebut, seperti kelahiran kembali (tumimbal lahir), yang merupakan hal benar-benar sahih, tapi yang jatuh di luar dari kesesuaian dengan pandangan dunia.

Singkatnya, pengalaman yang jelas atau jernih dan objektif hanya tejadi ketika "Lima Rintangan" dalam diri seorang Buddhis telah diatasi. Hanya setelah itulah seseorang dapat mempercayai data yang datang melalui pengertian seseorang.

Karena para ilmuwan tidaklah bebas dari kelima rintangan ini, mereka jarang berpikir jernih dan objektif. Sebagai contoh, hal ini biasa bagi para ilmuwan untuk mengabaikan data yang mengganggu, yang tidak sesuai dengan teori-teori berharga mereka, atau yang lainnya adalah membatasi bukti-bukti tersebut untuk dilupakan dengan menyimpannya sebagai suatu `anomali` (ketidaknormalan).

Bahkan sebagian besar umat Buddha tidaklah berpikir jelas dan objektif. Seseorang haruslah memiliki pengalaman Jhana untuk menyingkirkan lima rintangan ini secara efektif (menurut Nalakapana Sutta, Majjhima Nikaya 68). Jadi hanyalah para meditator yang sempurna yang dapat mengklaim dirinya ilmuwan sejati, yang memiliki pikiran jelas dan objektif.

Sains mengklaim untuk tidak hanya mengandalkan pengamatan yang jernih dan objektif, tetapi juga pada pengukuran. Tetapi dalam sains, apakah yang disebut dengan pengukuran itu? Untuk mengukur sesuatu, menurut sains murni dari Teori Kuantum, adalah meruntuhkan Persamaan Gelombang Schroedinger melalui tindakan pengamatan (observasi).

Selain itu, bentuk Persamaan Gelombang Schroedinger "yang tak teruntuhkan", dimana sebelum pengukuran apapun dilakukan, mungkin merupakan deskripsi yang paling sempurna sains dari dunia.

Itu merupakan deskripsi yang aneh! Menurut sains murni, realitas tidaklah terdiri atas unsur yang teratur baik dengan massa yang tepat, energi dan posisi di angkasa yang kesemuanya hanya menunggu untuk diukur. Realitas merupakan ketidakjelasan yang luas dari segala kemungkinan, hanya beberapa saja yang menjadi lebih jelas dibanding dengan hal yang lainnya.

Bahkan kualitas dasar "yang dapat diukur" seperti "hidup" atau "mati" yang telah didemonstrasikan oleh sains terkadang menjadi tidak berlaku. Dalam eksperimen pikiran `Schroedinger`s Cat` yang jahat, kucing Prof. Schroedinger secara cerdik ditempatkan pada situasi sebenarnya dimana ia tidaklah mati ataupun hidup, dimana pengukuran semacam demikian menjadi tidak berarti. Realitas, berdasarkan Teori Kuantum, adalah di luar ambang pengukuran. Pengukuran mengganggu realitas, ia tidak pernah mendeskripsikan realitas dengan sempurna.

Adalah `Prinsip Ketidakpastian` yang terkenal dari Heisenberg yang menunjukkan kesalahan yang tidak dapat dielakkan antara dunia Kuantum asli dan dunia terukur dari sains palsu.

Lagi pula, bagaimana setiap orang dapat mengukur sang pengukur, yaitu pikiran? Pada sebuah seminar baru-baru ini mengenai Sains dan Agama, dimana saya menjadi pembicara, seorang Katholik di dalam hadirin dengan beraninya mengumumkan bahwa setiap kali ia melihat bintang-bintang melalui teleskop, ia merasa tidak nyaman karena agamanya menjadi terancam.

Saya mengomentarinya bahwa setiap kali seorang ilmuwan melihat dengan cara yang terbalik melalui teleskop, untuk observasi orang yang sedang melihat, maka mereka merasa tidak nyaman karena sains mereka terancam oleh apa yang dilakukan oleh penglihatannya! Jadi apa yang dilakukan oleh penglihatan, apakah pikiran ini yang menghindar dari sains modern?

Suatu saat, seorang guru kelas satu bertanya kepada kelasnya, "Apakah benda yang terbesar di dunia?" Seorang gadis kecil menjawab, "Papaku". Seorang anak laki-laki kecil berkata, "Seekor gajah." Karena dia pernah ke kebun binatang baru-baru ini. Gadis yang lain mengusulkan, "Sebuah gunung".

Puteri berusia enam tahun dari sahabat karibku menjawab, "Mataku adalah benda yang paling besar di dunia!" Kelas itu terhenti. Bahkan guru tersebut tidak mengerti apa yang dijawabnya. Jadi sang filosofis kecil ini menjelaskan, "Yah, mataku bisa melihat papanya, seekor gajah dan sebuah gunung juga. Ia juga bisa melihat banyak lagi. Jika semuanya bisa sesuai ke dalam mataku, maka mataku pastilah benda terbesar di dunia!" Luar biasa!

Namun begitu, gadis kecil itu tidak sepenuhnya benar. Pikiran bisa melihat segala sesuatu yang bisa dilihat mata seseorang, dan ia juga bisa membayangkan begitu lebih banyak lagi. Pikiran juga bisa mendengar, membaui, merasakan dan menyentuh, sama baiknya dengan berpikir. Faktanya, segala sesuatu yang bisa diketahui bisa muat ke dalam pikiran. Oleh karena itu, pikiran pastilah benda yang terbesar di dunia. Kesalahan sains sudah jelas sekarang. Pikiran tidaklah berada di dalam otak, begitu pula di dalam tubuh. Otak, tubuh dan dunia beserta sisanya, ada di dalam pikiran!

Pikiran adalah indera keenam dalam Buddhisme, dialah yang mana memandu kelima panca indera yakni penglihatan, pendengaran, pembauan, pengecapan dan sentuhan, dan melebihi mereka dengan daerah kekuasaannya sendiri. Ia bersesuaian bebas dengan "Akal Sehat" dari Aristoteles yang mana bertentangan dari panca indera.

Memang benar bahwa filsafat Yunani kuno, dari mana sains dikatakan berasal, mengajarkan indera keenam sama seperti Buddhisme. Di suatu tempat bersamaan dengan perjalanan sejarah dari pemikiran orang Eropa, mereka kehilangan pikirannya! Atau, sama seperti Aristoteles yang akan mengemukakan demikian, mereka dengan suatu cara telah mengesampingkan "Akal Sehat" mereka! Dan demikianlah kita mendapatkan sains. Kita mendapatkan materialistis tanpa hati sedikitpun. Orang bisa dengan akuratnya mengatakan bahwa Buddhisme adalah sains yang menyimpan hatinya, dan yang tidak kehilangan pikirannya!

Demikianlah Buddhisme bukan suatu sistem kepercayaan. Buddhisme adalah sains yang ditemukan dalam observasi yang objektif, yaitu meditasi, selalu seksama untuk tidak mengganggu realitas melalui pengukuran buatan yang mengesankan, dan ia secara jelas dapat diulang.

Manusia telah menciptakan kembali kondisi-kondisi eksperimental, dikenal dengan menetapkan faktor-faktor dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, selama lebih dari duapuluh enam abad sekarang, lebih lama dibandingkan dengan sains. Dan mereka Professor-Professor Meditasi yang ternama, Arahat-Arahat pria dan wanita, kesemuanya telah tiba pada kesimpulan yang sama seperti Sang Buddha.

Mereka telah membuktikan Hukum Dhamma yang abadi, atau dikenal sebagai Buddhisme. Jadi Buddhisme adalah satu-satunya sains yang sejati, dan saya gembira untuk mengatakan bahwa saya masih seorang ilmuwan dalam hati saya, hanya saja seorang ilmuwan yang lebih baik daripada apa yang pernah saya dulunya dapatkan di Cambridge.
--end--

Judul asli: Buddhism, The Only Real Science
Oleh: Ven. Ajahn Brahmavamso Mahathera
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com

Catatan:

dogma: pokok ajaran tentang kepercayaan yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan.(sbr: KBBI)
evangelis: seseorang yang berusaha mengalih-yakinkan kepercayaan orang lain ke dalam ke-Kristen-an.(sbr: Oxford Dictionary)
neurosis: penyakit syaraf yang berhubungan dengan fungsinya tanpa ada kerusakan organik pada bagian-bagian susunan syaraf.(sbr: KBBI)

Y.M. Ajahn Brahmavamso Mahathera dilahirkan di Peter Betts di London, Inggris pada tanggal 7 Agustus 1951.

Beliau adalah kepala bhikkhu dari Vihara Bodhinyana di Australia Barat, Direktur Spiritual dari Buddhist Society Australia Barat, Penasihat Spiritual dari Buddhist Society Victoria, Penasihat Spiritual dari Buddhist Society Australia Selatan, Pelindung Spiritual dari Buddhist Fellowship di Singapura, dan Pelindung Spiritual dari Bodhikusuma Centre di Sydney.

Courtesy: Buddhist Society of Western Australia.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More